AES153 Tanah

Mungkin ini kesempatan baik untuk menuliskan tentang tanah. Satu dari lima elemen pembentuk kehidupan. Di beberapa esai lainnya saya sempat menuliskan tentang air. Tentang Air dan Kehidupan, silakan baca di sini. Sudah menulis juga tentang kekosongan, akash, ruang, emptiness, dimensi yang paling misterius, tapi sangat penting. Sambil belajar tentang elemen2 lainnya, mudah-mudahan saya berkesempatan untuk menuliskan tentang elemen-elemen lainnya.
Sore tadi, saya mengirim WA ke salah seorang kakak yang kebetulan ibunya sedang sakit. Tentunya segala harapan kita panjatkan agar ibunda kakak yang tercinta segera pulih. Salah satu bagian tubuhnya terasa sakit, terlihat bengkak juga. Inflamasi, istilah kedokterannya. Lewat teks-teks pendek saya tanyakan keadaannya. Segera saya teringat bahwa earthing - (disebut juga grounding) sangat efektif meredakan inflamasi. Kalau kita telusuri lebih jauh sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa bersentuhan langsung dengan tanah, dengan bumi dalam waktu singkat mengubah kekentalan darah dalam tubuh kita. Sepertinya hal ini yang berdampak langsung mengurangi gejala inflamasi.
Salah satu dokumenter yang menjelaskan tentang ini saya tempatkan di atas ini. Sadhguru dalam berbagai videonya terus mengingatkan bahwa badan kita datang dari tanah, terbentuk dari segala sesuatu yang kita konsumsi sejak kecil, dan apapun itu, kalau kita telusuri, semua itu datang dari tanah. Badan kita adalah tanah, juga air, udara, air dan akash (ruang) dan api (enerji). Hanya itu. Itulah elemen pembentuk kehidupan.
Saat manusia kehilangan koneksinya dengan tanah, di situlah berbagai masalah akan muncul - termasuk berbagai penyakit. Manusia modern karena berbagai proses semakin lama semakin berjarak dengan hal-hal ini, terutama elemen kehidupan. Lihat saja bagaimana manusia terus meracuni tanah, udara dan air... menebarkan polusi di mana-mana. Bahkan ruang kosong juga saat ini terpolusi berbagai gelombang elektro-magnetik yang dihasilkan perangkat elektronik. Manusia sebagai bagian dari alam semesta tidak bisa terpisah daripadanya. Kalau manusia mencemari tempat hidupnya, ia juga terus meracuni dirinya sendiri. Kesadaran ini penting ditumbuhkan di tengah-tengah kita. Kalau kesadaran itu ada, kita punya peluang untuk memperbaikinya. Salam.
Photo by Kenneth Carpina from Pexels
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AAS557 Melebur ke Sungai Cikahuripan
Cikahuripan, air kehidupan... itu nama sungai yang aliran airnya kami susuri saat kami beberapa warga Smipa mencoba Niis ke Gambung. Mendengar nama itu disebut pa Anwar saya tertegun sejenak, menyadari bahwa perjalanan kami ke Gambung dan ke hutan di dekat tempat kami menginap sejalan dengan apa ya…

AES453 Kolaborasi
Kemarin saat hendak ke luar rumah, perhatian saya tertuju ke sesuatu yang bergerak perlahan di dinding rumah. Setelah dilihat dari dekat, ada segerombolan semut yang sedang memindahkan bangkai capung ke sarangnya. Yang cukup luar biasa, semut-semut itu sedang bergerak vertikal menaiki dinding garas…

AES 87 Detak, Merapi, Seismograf, dan Mandala
Silakan membaca ini setelah atau sembari mendengarkan lagu ini: O Tuan - .Feast Oh jelas aku tahu bunga akan layuRumput kian mengering daun kan menguningKau tahu menurutku waktu adalahKutukan ancaman bualan Dan satu per satu orang sekitarkuMulai ditinggalkan oh ini peringatan Untukku o Tuan wahai K…
