AES160 Pertanyaan Akhir Pekan

Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.
Apa yang membuatmu bahagia hari ini?
Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku akan memilah mana saja hal yang membuatku tersenyum atau hal yang membuatku senang bahkan yang membuatku puas setelahnya aku akan mengurutkan mana saja yang membuatku paling merasa bahagia, menentukan peringkat kemudian mengeleminasi satu persatu hal yang menurutku ternyata tidak terlalu bahagia-bahagia amat ternyata. Setelah sibuk merasionalkan perasaan kemudian aku akan menyimpulkan bahwa hariku nyatanya biasa saja bahkan cenderung tidak menarik.
Beda cerita jika pertanyaannya adalah, “Apa yang membuatmu marah hari ini?”
Tanpa tandang aling-aling aku pasti bisa menjawab cepat. Oh aku marah karena harus menunggu orang yang tidak tepat waktu, aku marah karena bisa-bisanya dia lamban dan sulit memutuskan pilihan, yada yada.
Rasa frustasi, kecewa, cemas, takut, bosan atau jengkel cepat kita labelkan dengan satu wajah, marah. Sehingga dengan cepat juga kita bisa menjawab bahwa banyak perasaan yang terjadi seharian ini adalah suatu kemarahan sedangkan bahagia, yah bisa jadi karena ada kelakar “jangan terlalu senang nanti setelahnya akan datang kesedihan” sehingga secara tidak sadar pun kita takut merasa bahagia. Begitukah?
Kembali pada bahagia, padahal banyak juga perasaan bahagia ini berasal. Bisa dari senang, gembira, tertarik, percaya, kagum, optimis atau bahkan tentram. Belum familiar bukan berarti tidak ada kan?
Setelah menyadari itu perspektifku mengenai perasaan mulai meluas. Bukannya hidupku biasa saja tapi tentang perasaanku sendiripun ternyata banyak juga yang belum kuketahui.
Jadi sekarang jika pertanyaannya diulang kembali maka,
Apa yang membuatku bahagia hari ini?
Akan aku jawab singkat saja tanpa banyak berpikir.
Hari ini aku bahagia karena bisa merasakan banyak perasaan yang ternyata hanya perlu dirasakan tidak perlu dipikirkan apalagi dianalisis. Aku bersyukur atas segala kesederhanaan yang kurasakan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…
AES159 Somethin’ New
Ternyata, aku suka ngobrol.Aku suka ngobrol dengan satu orang saja lebih tepatnya karena jika sudah duduk bersama tiga orang atau lebih aku lebih suka menjadi pendengar. Rasanya sayang kalau melewatkan kesempatan mendengar pandangan banyak orang apalagi kalau bahasannya seru. Aku dapat banyak hal h…
