AES169 Menjadi Diri, Sendiri (31menitbaca)

Banyak yang nyinyir soal menjadi diri sendiri, seperti tertulis di cover picture tulisan ini. Nyinyirnya, “Katanya disuruh jadi diri sendiri, koq malah dinegasi.” Di sini lah terlihat kebelum matangan si penyinyir, setua apapun usianya, sedewasa apapun ngakunya. Pertama, masih merasa disuruh. Jadi diri sendiri koq perlu disuruh. Jadinya wajar kalau tidak mampu menerima negasi, pengennya diafirmasi melulu. Padahal, konfirmasi kan ada sepasang. Kalau bukan afirmasi ya negasi.
Kedua, ketidak mampuan mengimprovisasi posisi koma (,) yang membuatnya merasa butuh dituntut orang lain menjadiri diri sendiri. Padahal, tuntutan lingkungan memang diperlukan sebagai pemicu menjadi diri. Menjadi diri, sendiri. Yang menjadikan suatu pribadi adalah lingkungan tempatnya berada dan yang menjadikan lingkungan adalah pribadi-pribadi yang berada di dalamnya. Makanya, menurut saya pesan yang tersampaikan dari gambar di tulisan ini sudah benar penggunaannya. Menekan kan soal ruang & orang. Bukan orang yang memilih ruangnya, justru ruang yang memilih orangnya.
Ketiga, ehmm… cukup dua dulu saja.
Kesimpulan. Pertama, memang perlu menjadi diri sendiri dengan bukan disuruh. Melainkan menjadi diri, sendiri. Menjadi diri sendiri kan soal menjadi diri, sendiri. Lingkungan hanya pemicu, tanggung jawab diri ada di sendiri. Memilih menggigit cabai, kalau kepedasan koq menyalahkan yang jual gorengan. Kalaupun disuruh dan mau menggigit cabai itu, pilihan sendirinya kan menuruti suruhan. Tetap saja tanggung jawab sendiri, yang kalau ternyata dirinya responsibel akan merespon dengan menyusun strategi ke depan kalau menghadapi situasi serupa. Kalau tidak responsibel, responnya ya nyinyir tadi itu.
Kedua, kalau ternyata lingkungan mengafirmasi diri yang telah dijadikan sendiri ini. Berarti ruang telah memilih orangnya dan lanjutkan ke tahap selanjutnya di sini. Kalau ternyata lingkungan menegeasi dengan “No. not like that.” Ya gausah malah balik nyinyir dan menyebar negativitas ke yang terpilih oleh ruang ini. Karena tidak akan berpengaruh apa-apa kepada kedirian orang lain, hanya tidak nyaman di kuping kami saja. Kami yang terpilih oleh ruang ini. Sedangkan yang telah menjadi diri sendiri dan dinegasi, jelas lah bukan ruangnya di sini. Yang tidak terpilih, silakan lanjutkan tahap berikutnya di sana.
Ketiga, penutup aja. Baik itu afirmasi maupun negasi, keduanya adalah konfirmasi yang mencerahkan. Yang menjadi diri sendiri itu mengetahui dimana ruangnya. Mudah, semudah dua pilihan. Ruangku di sini. Ruangku bukan di sini. Menjadi susah kalau memang belum matang seperti tertulis di paragraf awalan. Penerimaan adalah tindakan aktif, bukan diam dan mengoceh narasi kepasrahan. Menerima adalah dengan matang, maju mengajukan penawaran. Karena mampu menyesuaikan diri dengan kesepakatan.
Jebakannya, yang terlalu strict ama ketetapan kesepakatan memang terlihat matang padahal itu hanya indikator kebuntuan walau memang di sisi lain kalau tidak memegang ketetapan kesepakatan itu pertanda belum matang. Memang, menjadi diri sendiri itu semacam dinamika tarik-tarikan antara kebelum matangan dengan kebuntuan. Semakin terlihat kalau proses menjadi diri sendiri adalah proses menjadi diri, sendiri.
Catatan penting : berproses berarti berbatas waktu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
