AtomicEssay

AES2 Pusaka Bernama Kata

Dhipie Kuronpenulis arsip2

Ada beragam luka yang tak lain semua berakhir pada rasa sakit. Mereka yang mempelajari Ilmu kedokteran mempelajari luka pada kulit sebagai cedera yang disebabkan oleh hancurnya ikatan antar sel dan bisa mengakibatkan kerusakan sel. Kondisi ini selanjutnya menghambat atau menghentikan fungsi jaringan yang terdampak. Selain itu mereka yang giat berolahraga tentu tak asing dengan istilah cedera.  Cedera bisa karena akibat perbuatan orang tersebut sendiri, karena tidak melakukan pemanasan dengan benar, olahraga berlebihan dan faktor motorik lainnya. Permainan yang memiliki kontak fisik sangat rentan menyebabkan cedera, seperti olahraga yang masyhur di Indonesia: Sepak Bola. Pemain sepak bola bisa mengalami cedera ringan, seperti memar, lecet, atau keseleo, hingga cedera yang berat, seperti gegar otak, cedera hamstring, dan cedera ligamen. Luar biasa ya? Tapi ilmu kedokteran dan ilmu olah raga sudah punya banyak teknik untuk mengatasi luka fisik ini.  Aturan main dan sanksi dalam permainan adalah upaya menghindarkan terjadinya cedera. Perihal yang telah dipelajari banyak orang.

Tetapi pernahkah teman-teman membayangkan ada penyebab cedera dan luka tersembunyi di dunia?

 Suatu senjata yang terus melekat di kehidupan kita dan nampaknya tak akan pernah terlepaskan. Kata! Pepatah “lidah tak bertulang” tentu bukan sesuatu yang baru kita dengar. Pepatah ini mungkin terbentuk di masa lampau karena banyak yang sudah jadi korban kata-kata. Saking kuatnya “kata” di beberapa literatur Arab  diumpamakan dengan pedang, yang bisa melukai dan menyakiti orang lain. 

Bagaimana kita bisa memiliki koleksi kata? Bagaimana dalam otak kita menyimpan kosa kata sebanyak triliunan bahkan mungkin sampai angka tak terhingga?

Unbelievably! Saya yakin dimulai dari interaksi awal saat bayi ada dalam kandungan, karena saya percaya jiwa yang ada di perut ibu sudah mendengar. Ditambah proses belajar sesuai tahapan usia, dan makin banyak jenis orang yang berinteraksi dengan kita menjadikan kita berbicara dengan kaya. Otak terus berpetualang, selalu menyilang-nyilangkan dan menyambung-nyambungkan data. Kemampuan otak akan terus meningkat ketika data yang masuk ke dalamnya terhubung satu sama lain. Dengan menghubung-hubungkan seperti itu, sebuah data akan tersimpan dan tertanam dalam otak lebih kuat lagi.

Di dunia kecerdasan buatan kini, apa yang terucap dapat diumpamakan sebagai “business decision” dan manusia yang mengatakannya adalah  “business owner” dan  otak adalah machine learning yang telah diisi dengan berbagai algoritma oleh “machine learning engineer” yang adalah lingkungan sekitar (dimana manusia yang berkata)  melakukan interaksi. Hal yang berbeda dengan sistem kecerdasan buatan, manusia memiliki jiwa, hal tak terpegang yang menambahkan algoritma tak beraturan dalam sistem proses ucapan. Kata ialah sarana mengungkap rasa dan pikiran, namun kekuatan bisa merobek tanpa menyebabkan darah mengalir, namun membekas di sukma dan tinggal selamanya dalam memori sel otak sekalipun kita tidak mengingatnya. Kata juga bisa menjadi luar biasa hebat, menerbangkan orang mencapai cita-cita, memotivasi, tak heran bagi mereka di otaknya tertanam algoritma tertentu mampu menjadi motivator speaker. Diundang ke berbagai acara untuk menjadi pembakar semangat. Kekuatannya bicara juga menjadikan para pembicara ini kondang di media sosial. 


Ah sangatlah nano-nano tulisan ini, maklumlah teman, ini adalah hasil permenungan melelahkan, yang akhirnya saya tandaskan dalam tulisan sebagai katarsis. Mungkin setelah posting,  saya bisa tidur nyenyak, tak dimakan rasa bersalah pada anak saya. Sebabnya, proses saya bermakrifat dipantik oleh percakapan sederhana dengan cahaya mata satu-satunya dalam hidup saya, siang tadi.

Ini tak lepas dari sebuah proses belajar yang sedang dilalui saya sekeluarga dengan bergandenngan dengan kakak-kakak dan para ahli. Diawali peristiwa anak saya dikata-katai kawan sebaya, beberapa bulan lalu. Sebuah pernyataan keras yang sampai sekarang kami masih berproses dengan segala rentetannya. Ia harus mendengar pernyataan keras untuk kondisi dan situasi keluarga yang tidak menjadi kehendaknya sebagai seorang anak. Bahkan saya tak yakin anak saya paham betul apa yang terjadi, tetapi ia harus merasa dihakimi oleh pernyataan tersebut. Ah, rasanya hancur dan tak berhenti saya yang keras hati ini menangis setiap mengingatnya. Tetapi lirih waktu berganti saya pikir pernyataan tersebut bukan hasil olahan sederhana anak yang baru mencapai usia pra pra remaja. Terus memancing saya berpikir bagaimana temannya itu bisa berkata seperti  itu? Ya, karena kita dianugerahi senjata ampuh bernama “kata”. Kemampuan berkata-kata berkesinambungan dilatih. Siapa yang melatih? Kita, bukan kamu, dia, saya, kami, atau mereka. Semua yang ada di sekitar anak pra remaja tersebut, the machine learning engineer.

Bukanlah saya sempurna. Jika sempuna itu ada di dunia tentu saya di surga dunia. Tetapi sebagai manusia yang kita bisa adalah berusaha, menciptakan keindahan nirwana di lingkungan kita. Proses ini membawa saya mengingatkan diri sendiri, untuk terus berupaya menggunakan kata untuk kebaikan bukan untuk kejahatan. Mengunakan kata agar kita berguna untuk orang lain, bukan menggunakan kata untuk membuat orang menjadi tak berdaya.  Tak lepas dari tugas yang sudah menjadi pilihan saya, menjadi orang tua. Saya mencatat ini sebagai hal yang harus disampaikan pada anak saya sendiri, dengan harapan memasukan memori baik, mengenai cara menggunakan kata. Agar suatu saat kelak cahaya mata hidup saya ini bisa menggunakan kata untuk kebaikan. Caranya? Masih saya cari. Jika teman-teman punya ide, saya akan sangat terbantu. Sila bagikan di kolom komentar atau tulisan lainnya. Thank you beforehand!

Komentar (1)

Andy Sutioso

Terima kasih catatannya Dhipie. Bagi kami situasi ini adalah ruang belajar. Semoga proses ini bisa kita jalani bersama sampai tuntas dan ditemukan titik kebaikannya, khususnya buat anak-anak kita.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES9 Tetamu

Bersyukur ternyata salah satu cara murah untuk mendapatkan kebahagiaan, mendatangkan tenaga yang tak terkira, dibandingkan sumpah serapah keluhan yang dapat dipastikan menguras semua kebaikan. Tamu memang tak dipungkiri hal yang sering menjadi merepotkan. Jika dulu mama selalu menyiapkan persediaan…

Dhipie Kuron30
AtomicEssay

AES8 Flora and Son: Jejaring dan Menjaring

Dari satu kenal yang lain, dari satu ilmu belajar hal yang lain. Terus menerus benang itu tak pernah putus kait mengkait sampai mungkin kita lupa dimana ujungnya, dan berjalan seperti tak berpangkal merambah ke hal-hal yang tak pernah kita duga. Setelah menerima hasil tes sidik jari, konsultasi psi…

Dhipie Kuron20
AtomicEssay

AES7 Menulis

Konsep bahwa segala sesuatu terjadi atas suatu alasan menunjukkan keterkaitan peristiwa dalam hidup dengan tujuan atau makna, meskipun pandangan tiap individu terhadap ide ini dapat bervariasi. Tetapi saya mempercayai adanya benang yang tak terlihat yang saling terhubung pada tiap kehidupan di muka…

Dhipie Kuron22