AtomicEssay

AES8 Flora and Son: Jejaring dan Menjaring

Dhipie Kuronpenulis arsip2

Dari satu kenal yang lain, dari satu ilmu belajar hal yang lain. Terus menerus benang itu tak pernah putus kait mengkait sampai mungkin kita lupa dimana ujungnya, dan berjalan seperti tak berpangkal merambah ke hal-hal yang tak pernah kita duga. Setelah menerima hasil tes sidik jari, konsultasi psikologi, dan banyak assement, saya mendapat kabar anak saya dilahirkan dengan bawaan kreatifitas dibandingkan logika. Sekalipun di keluarga ada yang demikian serupa dengan anak saya, saya harus mencari tau.

Jangan bosan teman, hidup saya memang penuh kebetulan. Sore kemarin saya menghabiskan sore ke malam di sebuah warung kopi lokal, karena menghormati pilihan beberapa kawan yang tak mau lagi meminum kopi di jaringan kopi internasional yang konon terkait dengan perang. Hanya bertemu biasa, melepas lelah bercerita hal yang bukan kerja. Nongkrong terpaksa jadi pilihan karena pulang pun tak terasa pulang, hidup sendirian di Jakarta, inilah pengganjal kerinduan akan hangatnya pelukan ananda di rumah, atau renyahnya omelan orang tua mengingatkan hal-hal yang benar. Kami bicara sana-sini, sembari kawan saya ini menunggu waktunya kembali bekerja. Kerja di jam yang tak semua terbiasa, karena mereka pekerja seni, tak terbatas waktu. Senang saya bisa menyerap banyak pengetahuan tentang proses kreatif dan berkarya dari mereka. Bagaimana karir seni itu sangatlah berbeda dengan orang kantoran, kerja mereka tak dinilai dari rangkaian proses penilaian berkala, ataupun angka-angka capaian. Bagus tidaknya diukur oleh selera orang yang beragam. Mereka yang dinilai baik secara teknik bisa gagal habis-habisan di pasar. Selain hasil kerja keberuntungan adalah kartu liar yang terkendali. Obrolan harus berakhir, karena tak sadar waktu seorang teman sudah harus terbirit ke studio rekaman. Seorang sound engineer yang pengajar musik sudah menunggunya di ujung lain Jakarta, dengan dua gitar dalam kempitan tangan, terengah-engah ia menerabas jalur yang terkenal sebagai juaranya kemacetan di jam pulang orang kantoran. 

Pulang ke dalam ruang kesepian, ingin membaca tapi malas menyalakan lampu kamar, akhirnya jemari memainkan telepon genggam. Menonton film sembari baringan adalah satu cara melewatkan malam tanpa rasa menghitung detak jam. Flora and Son, film Irlandia menjadi teman saya malam itu. Ini memang unsur kesengajaan karena dalam sinopsis diceritakan ini adalah cerita seorang ibu yang berusaha membesarkan anaknya dengan segala persoalan khas anak usia belasan. Kesengajaan itu kembali jadi kebetulan, seperti menyambung benang obrolan saya sore tadi tentang proses bekerja para seniman. Dalam kisah diceritakan seorang perempuan yang menjadi ibu di usia belasan, sedang kerepotan, anaknya yang berusia empat belas tahun terancam masuk dalam tahanan karena kejahatan berulang. Pekerja kepolisian menyarankan anak itu harus punya kegiatan. Ibu miskin, hanya bekerja serabutan tak punya pilihan untuk mendatangi pusat konseling mahal atau mendaftarkan anaknya di pusat-pusat kebugaran. Ia memulung sebuah gitar di gerobak barang buangan, menawar habis-habisan pada penjaga toko tempat reparasi, demi gitar dapat difungsikan sesuai anggaran,  kemudian ia menyematkan pita untuk memberikan kejutan pada anaknya, sekaligus mengikuti saran petugas kepolisian memberikan kesibukan pada anak remaja yang hidupnya tak karuan. Alih-alih senang dengan hadiah dari ibunda, si anak malah marah-marah, karena musiknya tak terfasilitasi dengan barang rombengan. Banyak bumbu cerita dimana si ibunya yang malah menemukan "kesembuhan" dalam proses berjalan bersama si anak bermasalah. Belum lagi percakapan-percakapan antara si ibu dengan guru musik online yang seakan menjadi penggenapan obrolan sore bersama kawan-kawan saya. Bagaimana menjadi guru musik di anggap sebagai kuburan, dasar terbawah dari perjalan karir seorang seniman, bagaimana rasa jadi musisi gagal.

Film yang sangat menarik tetapi bukan ditujukan untuk kanak-kanak. Lantunan tutur dalam bahasa Inggris dialek Irlandia mengelitik telinga saya yang terbiasa dengan film amerika, kekayaan idiom dalam percakapan, serta metafora dalam setiap adegan menjadi daya tarik tak terelakan dari film ini. Siapalah saya untuk menyarankan, bukanlah pula seorang pakar perfilman, tetapi dorongan untuk membagikan hal yang menyenangkan pada jejaring di lingkar sekitar saya, mendorong saya mengajak teman-teman untuk ikut melihat film ini jika berkesempatan. 

Kebetulan-kebetulan dan kebetulan. Itulah benang-benang  berjaring di hari saya, menjaring pengetahuan. 

Anomali - Setiabudi, 29 November 2023

Image credit; apple.com

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES9 Tetamu

Bersyukur ternyata salah satu cara murah untuk mendapatkan kebahagiaan, mendatangkan tenaga yang tak terkira, dibandingkan sumpah serapah keluhan yang dapat dipastikan menguras semua kebaikan. Tamu memang tak dipungkiri hal yang sering menjadi merepotkan. Jika dulu mama selalu menyiapkan persediaan…

Dhipie Kuron30
AtomicEssay

AES7 Menulis

Konsep bahwa segala sesuatu terjadi atas suatu alasan menunjukkan keterkaitan peristiwa dalam hidup dengan tujuan atau makna, meskipun pandangan tiap individu terhadap ide ini dapat bervariasi. Tetapi saya mempercayai adanya benang yang tak terlihat yang saling terhubung pada tiap kehidupan di muka…

Dhipie Kuron22
AtomicEssay

AES7 Cerita Soal Cerita

Belum genap 2 minggu saya meninggalkan pulau itu, mendadak Bali kembali, mengejar beberapa orang yang hanya bisa ditemui disana di sela liburannya. Saya pun menyela pekerjaan untuk mengisi kembali energi saya yang banyak terkuras, tak hanya urusan kerja. Tetapi urusan-urusan anak yang menjadi tangg…

Dhipie Kuron20