AES206 Oh gak bisa, yaudah.

Seperti peminta-minta yang walau tampaknya seakan mengerti soal kejelasan, padahal sangat takut padanya sampai lebih senang meributkan ketidak jelasan. Pun setelah mendapatkan kejelasan akan merengek menggunakan teori usang yang selama ini berhasil diulang-ulang mempersoalkan ketidak sesuaian keinginan. Yang bahkan tidak mengerti keinginannya apa.
Yang diketahui hanya pengulangan, makanya ketidak jelasan selalu jadi hambatan. 'Oh gak bisa, yaudah' demikianlah mantranya. Kembali kepada kemudahan, kembali kepada kenyamanan yang mudah. Tidak mampu memenuhi tantangan naik pangkat menjadi yang memudahkan. Padahal kemampuan hanya soal mengubah mantra, dampaknya akan lebih cerah terasa.
Mantra 'Oh gak bisa, yaudah' itu terasa remang seperti lampu bohlam kuning lima watt jaman perjuangan. Sekarang sudah tidak relevan, karena perjuangan sudah terlampaui dan narasi produktivitas sudah beralih kepada kreativitas. Bukan pabrik produksi kan, justru manusia berkreasi lah anak dari jaman sekarang. Transformasi ini perlu mulai dari rekonstruksi definisi internal.
Belum lagi narasi profesionalisme yang usang, berganti vokasionalitas yang lebih aktual. Makanya, rasa lampu bohlam lima watt sudah perlu berganti kepada LED lima watt rasa delapan belas watt. Ramah lingkungan dan efisien energi dalam menghadapi dan berkerja bersamanya. Lagi-lagi kembali kepada narasi dasarnya, kalau masih profesionalisme kemasan vokasionalitas ya percuma.
Lampu lima watt generasi terbaru tidak ada residu gerutu, tanpa efek samping pusing, dengungan pun hampir tidak terdengar. Narasinya pun lebih positif, meluas dan menyegarkan. Seperti Oh gak bisa, yaudah berganti jadi Oh gak bisa begitu ya, kalau begini cukup membantu kah. Sehingga tidak berlindung dibalik ketidak jelasan yang selalu jadi alasan gerutuan dan lebih berani menerima kejelasan.
Memangnya, berani menerima kejelasan itu seperti apa? Jawabannya ya baca lagi paragraf sebelumnya saja. Jadi teringat hukum cara berpikir sistem yang ke delapan, highest area of leverage often the least obvious. Pertama-tama adalah menerima outcome alih-alih membela diri dengan output karena persoalan ada pada input. Karakternya lima watt atau delapan belas watt.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
