AtomicEssay

AES24 Seporsi Soto Bandung dan Sejuta Makna dalam Setiap Suapan

Asapenulis arsip2

Sore ini, di bawah gerimis yang jatuh perlahan, seporsi Soto Bandung hadir di hadapan kami. Tidak hanya menawarkan kehangatan bagi tubuh, tetapi juga membuka pintu-pintu percakapan yang jauh lebih luas dari yang pernah kuduga.

Segalanya datang begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba, namun penuh makna.  

Obrolan yang mengalir, mendidik tanpa menggurui, mendalam tanpa terasa berat. Setiap suap soto seolah dibumbui oleh kata-kata manis yang meresap di sela-sela hujan, menambah rasa pada setiap tegukan kuah yang kaya rempah.

Berbicara tentang hidup, siapa yang mampu menampungnya dalam semangkuk soto? Bahkan sejuta porsi pun takkan pernah cukup untuk merangkum luasnya makna hidup ini.  

Seperti langkah kaki yang terus menapaki perjalanan. Sejauh apapun pergi, selalu ada jejak makna yang ditinggalkan.  

Seperti perut yang tak peduli berapa banyak diisi, tetap saja mencari lebih.  

Seperti hati, yang katanya lemah namun juga paling kuat menanggung rasa.

Pada akhirnya, pembicaraan kami mengerucut pada satu hal: "pemaknaan".  

Mengapa kita dipertemukan?  

Mengapa semua ini terjadi?

Aku teringat akan ungkapan lama:  

"Tuhan tidak pernah tidur."

Dulu, aku memaknainya hanya sebatas bahwa kejahatan akan selalu mendapat balasan. Namun hari ini, di tengah semangkuk Soto Bandung dan obrolan hangat, aku melihat makna itu membentang lebih luas:  

Bahwa Tuhan tak hanya mengawasi ketidakadilan, tetapi juga menjaga setiap keresahan kita.  

Seakan-akan Tuhan berbisik,  

"Mengapa kamu cemas akan hidupmu, padahal ada Aku yang terjaga di siang dan malammu, dalam hidup dan matimu, dalam bangun dan tidurmu?"

Namun, penjagaan itu tidak berarti kita hanya diam. Tuhan juga ingin melihat, sejauh mana hambanya berikhtiar dan setulus apa ia bertawakal.  

Ikhtiar — usaha sungguh-sungguh.  

Tawakal — menyerahkan hasil sepenuhnya kepadaNya.  

Dua hal yang seharusnya seimbang, seperti dua sisi dari napas kita sehari-hari.

Sore ini, pembicaraan kami menjelajah ke berbagai belahan ilmu: lahirnya matematika, terciptanya IPA, semua bermula dari satu hal sederhana yaitu rasa ingin tahu.  

Karena, pada dasarnya, manusia adalah makhluk pembelajar.  

Dan rasa ingin tahu adalah kobaran api pertama yang menuntun langkah-langkah pengetahuan.

Rupanya Soto Bandung yang kaya rempah hari ini bukan hanya menghangatkan badan tetapi juga memperkaya jiwa.  

Menjadi saksi bagaimana rasa lapar tidak hanya diisi oleh makanan, tetapi juga oleh percakapan, tawa, dan perenungan.

Dalam setiap seruput kuah dan helaan napas di sela obrolan, aku menyadari satu hal:  

"Hidup ini, sebagaimana seporsi soto, paling nikmat ketika dinikmati perlahan, bersama mereka yang mau berbagi makna".

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES27 Puisi: Tuhan Maha Baik ya

Tuhan maha baik, ya...Kali ini menyapa ciptaan-Nya lewat hujan yang turun menjelang senjaGemercik air berdenting lembut di atap dan dedaunanMenyatu dengan bisikan angin yang pelan-pelan memeluk kelelahan Aroma tanah basah menguarmenyelinap di antara detak jantung yang nyaris menyerahmengendap di re…

Asa00
AtomicEssay

AES26 Puisi: Senja dan Syukur

Senja dan Syukur Sore ini, aku menutup hari dengan rasa syukur Meski lelahku mungkin bagi yang lain hanyalah gugurMungkin sabarku, bagi mereka, adalah seutas harapanYang tumbuh diam-diam di antara kepenatan Kulepas pandang pada ikan-ikan kecilku yang riangMasih berenang tenang di beningnya kolam la…

Asa10
AtomicEssay

AES25 Universitas Kehidupan: Belajar dari Seorang Ibu

Ada universitas yang tidak tercatat di ijazah, tak tertulis dalam transkrip nilai, dan tak diresmikan dengan toga dilabeli seseorang dengan nama Universitas Kehidupan. Hari ini, aku duduk bersandar pada sore yang sederhana, berbincang dengan seorang perempuan yang kini akrab kupanggil Ibu. Ia bukan…

Asa10