AtomicEssay

AES25 Universitas Kehidupan: Belajar dari Seorang Ibu

Asapenulis arsip2

Ada universitas yang tidak tercatat di ijazah, tak tertulis dalam transkrip nilai, dan tak diresmikan dengan toga dilabeli seseorang dengan nama Universitas Kehidupan. Hari ini, aku duduk bersandar pada sore yang sederhana, berbincang dengan seorang perempuan yang kini akrab kupanggil Ibu. Ia bukan ibu kandungku. Ia memulai sebagai orang asing. Namun, dari tutur katanya dan caranya menatap dunia, ia telah menjadi guru yang mengajariku tentang makna sejati dari belajar dan hidup.

“Ibu cuma sekolahnya hanya sampai di Kelas 2 SMP,” ucapnya sambil tersenyum. Tapi dari senyumnya yang tenang, aku tahu: ini bukan tentang rendahnya jenjang pendidikan, melainkan tingginya pengalaman. “Aku banyak belajar dari hidup bukan hanya bangku sekolahan,” katanya pelan, “dari jatuh bangun, dari diremehkan, dari semua hal yang melukai.”

Belajar tak hanya berpusat dari Buku

Dunia sering kali menilai manusia dari gelar yang melekat di belakang namanya. Tapi Ibu membuktikan bahwa kapasitas seseorang tak ditentukan oleh sejauh apa ia sekolah, melainkan sejauh apa ia belajar dari kenyataan. Ia perempuan yang tak takut gagal. Meski berkali-kali diragukan karena ‘hanya’ lulusan SMP, ia tetap teguh berdiri, membuktikan eksistensinya di tengah badai.

Aku jadi teringat sebuah kutipan dari John Dewey, filsuf pendidikan:

"Education is not preparation for life; education is life itself."

Pendidikan yang sejati adalah hidup itu sendiri, ia berlangsung setiap hari, di setiap napas, setiap luka, dan setiap harapan.

Dijodohkan dan Dipaksa Dewasa

Ibu bercerita tentang keputusan terbesar (dan terberat) dalam hidupnya: dijodohkan di usia belia. Ketika seharusnya masih duduk di bangku sekolah, ia malah harus mengandung dan menjadi ibu. Mimpi-mimpinya tentang belajar dan menjadi seseorang harus dikubur dalam-dalam. Hidup bersamanya yang tak diinginkan selama puluhan dengan segala luka yang ia telan dalam diam adalah kisah yang tak sempat ditulis di buku manapun, tapi abadi dalam ingatannya.

Namun hidup, seperti sungai, terus mengalir. Usia 60 menjadi titik balik. Di sana, Ibu menyadari bahwa waktu tak pernah berhenti dan manusia tak boleh berhenti berpikir, bertanya, atau mencari. “Kita harus terus mencari alasan kenapa kita diciptakan,” ucapnya dengan mata yang basah tapi tajam.

Setiap Orang Adalah Buku

Perjalanan ini mempertemukanku dengan sosok asing yang justru membuatku merasa lebih dekat dengan diriku sendiri. Kadang kita bertemu dengan orang-orang yang membuat dunia terasa luas dan hangat, dan kadang pula, kita hanya singgah dalam cerita orang lain sebagai penonton yang belajar diam-diam dari panggung kehidupan mereka.

Aku percaya bahwa setiap manusia adalah buku berjalan. Ada yang terbuka, ada yang tertutup rapat, dan ada pula yang baru mulai kutemukan satu per satu halamannya. Bertemu dengan orang baru adalah seperti membuka bab baru dalam hidup: menantang, membingungkan, sekaligus menyenangkan.

Seperti Ibu sebagai sosok yang tak punya gelar sarjana, tapi lulus dengan predikat terbaik dari Universitas Kehidupan.

"Kita semua adalah murid dari pengalaman. Tak semua guru memiliki papan tulis, dan tak semua pelajaran dimulai dengan salam."

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES27 Puisi: Tuhan Maha Baik ya

Tuhan maha baik, ya...Kali ini menyapa ciptaan-Nya lewat hujan yang turun menjelang senjaGemercik air berdenting lembut di atap dan dedaunanMenyatu dengan bisikan angin yang pelan-pelan memeluk kelelahan Aroma tanah basah menguarmenyelinap di antara detak jantung yang nyaris menyerahmengendap di re…

Asa00
AtomicEssay

AES26 Puisi: Senja dan Syukur

Senja dan Syukur Sore ini, aku menutup hari dengan rasa syukur Meski lelahku mungkin bagi yang lain hanyalah gugurMungkin sabarku, bagi mereka, adalah seutas harapanYang tumbuh diam-diam di antara kepenatan Kulepas pandang pada ikan-ikan kecilku yang riangMasih berenang tenang di beningnya kolam la…

Asa10
AtomicEssay

AES24 Seporsi Soto Bandung dan Sejuta Makna dalam Setiap Suapan

Sore ini, di bawah gerimis yang jatuh perlahan, seporsi Soto Bandung hadir di hadapan kami. Tidak hanya menawarkan kehangatan bagi tubuh, tetapi juga membuka pintu-pintu percakapan yang jauh lebih luas dari yang pernah kuduga. Segalanya datang begitu tiba-tiba, tanpa aba-aba, namun penuh makna. Obr…

Asa20