AES291 Purnama di Babelan

Purnama di Desa Muara, Babelan
Note by Leo Amurist on Thursday, December 3, 2009 at 9:01pm
Purnama di tengah desa.
Muara namanya.
Lantunan lagu seharian ada peringatan.
Sunatan katanya.
Remang-remang habiskan terang.
Sudah malam tampaknya.
Diam dan tak tenang.
Di dalam keterasingan suasana.
Menutup mata adalah keinginan tak terkabulkan.
Gerah dan nyamuk penyebabnya.
Kembali ke peradaban kota dengan detik qwerty yang bernyanyi antarkan harapan lewat jalan mimpi, harap bertahan dan berkembang setelah lewati semua.
Jalan yang terbentang tak semudah itu diabaikan, karena apa yang dibutuhkan datang dalam ketidak terdugaan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
