AES298 Void

Untuk apa sibuk mengisi kekosongan, bukankah kekosongan itu sudah penuh mengisi. Penuh dengan kekosongan. Membuat yang yang tidak kosong menjadi berarti.
Seperti arang bakaran batangan pepohonan. Yang dalam setiap bongkahnya terdapat celah kosong. Yang setiap celah kosongnya menjadikannya berarti.
Karena kekosongan itu, mampulah menyimpan air. Karena kekosongan itu, mampulah menyimpan nutrisi. Karena kekosongan itu, mampulah mengisi kepenuhan dirinya. Bermanfaat.
Seperti kekosongan dari yang seperti biasanya. Seperti kekosongan dari keseharusnyaan. Seperti kekosongan dari repetisi tradisi, repetisi tra da isi. Karena makna yang diulang-ulang pun jadi usang.
Tanpa kekosongan, tiada kebaruan. Mempertahankan isi, malahan mengosongkan. Terlalu penuh jadinya kosong, tiada tempat bagi aktualisasi. Sibuk mengisi, tak ada void untuk menjadi.
Stop. Hentikan memberi kalau belum mampu menerima. Isi hanyalah repetisi, ketika kosong adalah aktualisasi. Seperti tanah yang mengapresiasi akar, mengosongkan diri.
Bukan tanah, justru jeda di antaranya lah yang menjalarkan akar. Semakin penuh, semakin padat, semakin dangkal, semakin menghambat. Semakin kosong, semakin luang, semakin dalam, semakin berkembang.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 514 Apa Yang Perlu Saya Lakukan?
Adalah pertanyaan yang lagi sering saya dengarkan berseliweran di udara, ini dapat jadi salah satu indikator ketakutan . Takut salah, misalnya. Bahkan dengan kemampuan sebesar apapun dan keterampilan semahir apapun, akan batal oleh ketakutan berbuat salah ini. Mirisnya, salah yang terjadi pun bisa…

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

