AtomicEssay

AES3 Kendaraan Pembawa Kebanggaan Pada Jati Diri

Dhipie Kuronpenulis arsip2

Entah kenapa nasib selalu menggiring saya berpetualang ke negeri asal cerita Ramayana dan Mahabarata yang cukup akrab kisahnya bagi sebagian orang Indonesia.

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), peradaban India disebut juga peradaban lembah Indus atau peradaban Harappa. Peradaban tersebut diperkirakan sudah ada sekitar 2500-1700 sebelum masehi. Para peneliti dari IIT – Kharagpur dan Archeological Survey of India menemukan hal yang lain peradaban Lembah Indus lebih tua lagi. Entah mana yang tahkik, tetapi jelas ini sudah ada kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang lebih tinggi sejak lampau.

Mari kita naiki mesin waktu dan kembali ke masa kini.


Pemimpin Dunia Berkebangsaan India


Dunia teknologi  dihebohkan oleh penampilan cemerlang para CEO dengan nama-nama khas India. Mulai dari raksasa yang sudah mapan hingga bintang-bintang muda, para pemimpin ini sedang menciptakan keajaiban dalam industri ini. Mulai dari CEO Microsoft Satya Nadella, CEO Alphabet (Induk perusahaan Google) Sundar Pihcai, CEO IBM Arvind Krishna, hingga CEO Adobe Shantanu Narayen. Kepimpinan ini belum termasuk di bidang lain Ajay Banga, President World Bank; Vasant Narasimhan, CEO Novartis AG – perusahaan pharmacy; Laxman Narashi – CEO Starbuck; Sonia - CEO GAP Inc. Teman-teman mungkin bisa membantu saya menambahkan daftar panjangini. Sebagian dari mereka sudah tidak berkewarganegaraan India, ada yang berpindah kewarganegaraan, ada pula dari mereka adalah generasi keturunan India yang berimigrasi ke berbagai negara.

Di bidang politik ada dua orang pemimpin dunia  yang memenuhi syarat untuk menjadi pemegang  Overseas Citizenship of India (OCI); bentuk izin tinggal tetap yang tersedia bagi orang-orang keturunan India dan pasangan mereka, hal yang memungkinkan mereka untuk tinggal dan bekerja di India tanpa batas waktu. Diaspora India yang memiliki kartu ini, memiliki akses seumur hidup ke India, beserta manfaat seperti memiliki tanah dan melakukan investasi lainnya di negara tersebut.

Rishi Sunak, Perdana Menteri Britania Raya. Ia keturunan India, Asia dan kulit berwarna pertama dalam sejarah Britania Raya yang menduduki posisi Perdana Menteri. Ia juga merupakan perdana menteri termuda dalam dua abad terakhir. Istrinya, Akshata Murthy masih berkewarganegaraan India, dan di berbagai kesempatan bicara di publik dengan bangga mereka menyatakan mereka adalah bagian dari India.

Kamala Harris, yang merupakan perempuan pertama,  Afrika-Amerika pertama, keturunan Asia Selatan pertama yang menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, lahir di Oakland, California, pada tahun 1964, sehingga memiliki kewarganegaraan AS sejak lahir. Ibunya, Shyamala Gopalan Harris, lahir di Chennai, India, dan berimigrasi ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tinggi. Sang ibu membentuk kebanggaan akan warisan India dalam diri Kamala. Kamala Harris sering menekankan akar budayanya dan pengaruh keluarga ibunya dalam pembentukannya, mencerminkan keragaman Amerika Serikat. Dari berita di youtube, ada beberapa nama India-Amerika lain bermunculan  di kancah persaingan petinggi pemerintahan Amerika antara lain: Vivek Ramsay, seorang miliarder perusahaan teknologi yang lahir dari pasangan imigran asal Kerala – India; Nikky Haley mantan gubernur Carolina Selatan dan satu-satunya perempuan yang berjuang mendapatkan kesempatan menjadi kandidat presiden di partai Republik, dan Hirsh Vardhan Singh, 38 tahun, berlatar  aeronautical engineer yang menerima penghargaan  the Aviation Ambassador  dari the American Institute of Aeronautics and Astronautics pada tahun 2003 juga turut serta dalam perebutan kursi ini. 

 

Chandrayaan dan Aditya L-1 : “It’s Not a Rocket Science” untuk India

Selain teknologi di bidang komunikasi (baca: internet) teman-teman mungkin sudah mendengar tentang Chandrayan. Chandrayaan adalah program eksplorasi bulan India, yang terdiri dari serangkaian misi yang bertujuan untuk mempelajari Bulan. Chandrayaan-1, diluncurkan pada tahun 2008, merupakan misi bulan pertama India yang menghasilkan penemuan penting, termasuk keberadaan molekul air di permukaan bulan. Chandrayaan-2, diluncurkan pada tahun 2019, mencakup satelit pembawa, pendarat (Vikram), dan rover (Pragyan) yang dirancang untuk menjelajahi Bulan secara lebih komprehensif, meskipun Vikram gagal melakukan soft landing. Tanggal 24 Agustus 2023 Google Doodle merayakan keberhasilan India mendaratkan Chandrayaan-3 ke bulan, momen pendaratan pesawat antariksa Chandrayaan-3 di kutub selatan Bulan itu terekam berjalan mulus dan sukses.

Di hari yang sama Chandrayaan-3 mendarat, dalam sambutannya Perdana Menteri India menyebutkankan tentang misi lainnya: Aditya-L1. Nama "Aditya" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti Matahari; Benar tebakanmu teman, India memulai misi studies ke matahari. Aditya-L1 adalah satelit yang dirancang untuk studi mendalam tentang Matahari, dilengkapi dengan tujuh muatan yang berbeda, lima dikembangkan oleh Indian Space Research Organisation (ISRO) dan dua oleh lembaga akademik India bekerjasama dengan ISRO.

Dua proyek luar angkasa yang menjadi pernyataan bagi negara India bahwa mereka mempunyai kapasitas keilmuan. Bahwa ini secara faktual, ilmu roket adalah sebuah bidang studi dan rekayasa yang berfokus pada desain, pengembangan, dan operasi roket dan wahana antariksa. Ini mencakup beragam disiplin ilmu, termasuk fisika, matematika, rekayasa, dan ilmu bahan. Para ilmuwan roket bekerja pada tugas seperti sistem propulsi, mekanika orbital, dan aerodinamika, yang memang sangat kompleks dan memerlukan pengetahuan khusus. Namun mereka mampu melakukannya.


Menarasikan Peristiwa Membentuk Kebanggaan


Apakah semua ini? Pemberitaan tentang keberhasilan diaspora india? Kisah keberhasilan astronomi?

Ketika orang menggunakan frasa "Its not a Rocket Science,"  biasanya orang yang mengatakannya mencoba menyampaikan bahwa sesuatu itu tidak sesulit yang mungkin terlihat dan dapat dipahami atau diselesaikan dengan usaha yang masuk akal, atau kita di Indonesia berkata “ceteklah itu!”. Chandrayaan dan Aditya bukan sekedar adu pamer kemampuan teknologi, ini adalah narasi. Narasi bahwa India mampu menaklukan kesulitan, hal ini menginspirasi setiap warganya. Semua rekan saya di kantor secara khusus tanpa perintah mengibarkan bendera India di berbagai media yang dipunyanya saat Chandrayaan-3 mendarat di bulan. Bentuk menyatakan diri: "Saya India, saya bagian dari kesuksesan itu". Memperpanjang rasa bangga itu, bahkan produk dairy yang memiliki pangsa pasar terbesar mengeluarkan iklan dengan menyangkutkan pada Chandrayan. Sebuah billboard iklan apartement di Area Maharastra saya menemukan mereka menuliskan bahwa kolam renang anak akan dibangun dengan miniatur roket yang melesatkan Chandrayaan. Chandrayaan terus digemakan berbagai pihak, sehingga terus menyala di pikiran tiap warga negara. 

Menjadi pemimpin di luar kandang sendiri, dan melakukan hal yang dianggap paling menantang adalah keping-keping kecil dari skenario besar membentuk kebanggaan pada jati diri, sebagai bagian dari sebuah bangsa atau negara.  Bangga terhadap jati diri tak bisa dibentuk sendiri. Ini adalah kerja besar, bahkan perlu melibatkan negara seperti yang dilakukan India.

Kebebasan Memilih Kewarganegaraan : Kebanggan Pada Jati Diri

Jika kebanyakan orang sekarang senang dengan scale up saya ingin scale down. Bertanya pada diri sendiri apa yang terjadi di sini, di ruang kita Bersama Semi Palar.

Anak saya, lahir dan dibesarkan di Indonesia, dengan ibu berkewarganegaaraan/berkebangsaan Indonesia dan ayah berkewarganegaraan India dan tinggal di India. Sebagai anak sah dari sebuah perkawinan campur dua kewarganegaran, berdasarkan hukum Indonesia, anak saya berhak atas kewarganegaraan ganda terbatas. Ia bisa memilih kewarganegaraannya, Ia sudah lama menetapkan hati memilih kewarganegaraan Indonesia. Apapun berita  hebat tentang India  tak menggoyahkan, sampai tulisan ini di posting, Ia masih memilih kewarganegaraan Indonesia.

Selain kisah sukses India, anak saya juga kerap mendengar cerita perjalanan saya. Ia mendengar bagaimana saya kesulitan menemukan toilet bersih di area umum, jalanan yang bising bukan dengan suara mesin tetapi karena suara klakson yang untuk saya sudah melanggar etika, orang menerabas antrian atau lampu merah dilakukan orang bak bukan pelanggaran, belum lagi sampah yang dibuang sembarang bahkan di area perkantoran elit dimana perusahaan teknologi berpusat (cyber city). Demikian tentang Indonesia ia melihat sendiri kehebatan dan ketidakbaikan Indonesia, dan dengan berbagai paparan.

Sejak kecil berulang kali anak saya menyatakan ingin segera melakukan sumpah setia pada Indonesia, sesegera mungkin! Bahkan sebelum ia sering mendengar kisah perjalanan saya. Lingkungan tempatnya hidup nampaknya telah berhasil menanamkan kebanggaan untuk menjadi orang Indonesia. Ia masih harus sabar menanti usianya 18 tahun.

Dari hal rutin Upacara Bendera. Entah kenapa Semi Palar membuat anak saya menyukai Upacara Bendera, sesuatu yang dalam catatan ingatan saya adalah hal yang sebisa mungkin saya hindari saat masa sekolah. Dia sangat kecewa ketika bulan ini tak ikut upacara bendera karena sakit panas. Kegiatan bulanan Semi Palar ini dirindukannya. Bahkan di 17 Agustus saat libur sekolah dengan riang tanpa paksaan, Ia minta diantar ke tempat penyelenggaraan upacara bendera di kota tempat kami tinggal. Ini bentuk kecil dari kebanggan terhadap negaranya, jati dirinya : Indonesia.  Lagi-lagi harus saya garis bawahi bahwa ini kebanggaannya pada jati diri adalah keberhasilan kolektif termasuk andil sekolah dimana Ia menghabiskan masa kecilnya, Semi Palar (sudah sejak TK A di Semi Palar, dan Ia mengungkap jika nanti Semi Palar buka kuliahan dia akan melanjutkan kuliah di Semi Palar :D )


Lebih dari 1000 kata, terlalu panjang saya bercerita. Sebenarnya ini penggabungan beberapa keping yang saya tulis tangan di buku catatan dalam beberapa perjalanan dinas, saat tak bisa memanfaatkan telepon genggam, kebanyakan saat di pesawat. AES sudah memberi saya kecanduan yang positif. Saya coba 1 tulisan 1 hari, panjang pendeknya menyesuaikan kondisi. Akhirnya senang bisa membagikannya secara terbatas untuk teman-teman di Semi Palar dan akan lebih senang jika teman-teman berkenan berbagi pengalaman teman-teman tentang apa yang membuat kawan bangga jadi bagian dari Indonesia, mari bagikan di ruang ririungan kita, supaya saya ikut diperkaya dengan tulisan teman-teman.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES9 Tetamu

Bersyukur ternyata salah satu cara murah untuk mendapatkan kebahagiaan, mendatangkan tenaga yang tak terkira, dibandingkan sumpah serapah keluhan yang dapat dipastikan menguras semua kebaikan. Tamu memang tak dipungkiri hal yang sering menjadi merepotkan. Jika dulu mama selalu menyiapkan persediaan…

Dhipie Kuron30
AtomicEssay

AES8 Flora and Son: Jejaring dan Menjaring

Dari satu kenal yang lain, dari satu ilmu belajar hal yang lain. Terus menerus benang itu tak pernah putus kait mengkait sampai mungkin kita lupa dimana ujungnya, dan berjalan seperti tak berpangkal merambah ke hal-hal yang tak pernah kita duga. Setelah menerima hasil tes sidik jari, konsultasi psi…

Dhipie Kuron20
AtomicEssay

AES7 Menulis

Konsep bahwa segala sesuatu terjadi atas suatu alasan menunjukkan keterkaitan peristiwa dalam hidup dengan tujuan atau makna, meskipun pandangan tiap individu terhadap ide ini dapat bervariasi. Tetapi saya mempercayai adanya benang yang tak terlihat yang saling terhubung pada tiap kehidupan di muka…

Dhipie Kuron22