AES312 Jutaan

Sebenarnya, semua alasan tujuan penjelasan pemaknaan dan rencana tindak lanjut itu tidak praktikal. Buktinya, selalu kembali kepada perlindungan kebiasaan dan kemapanan. Seperti, meminta instruksi dan menuntut pengulangan.
Karena dengan adanya instruksi, bisa lepas tangan tanpa jatuh terjerembab. Karena dengan mengulangi yang terdahulu, bebas dari risiko jadi pendahulu. Soalnya, jatuh terjerembab adalah risiko jadi pendahulu.
Lalu mengapa mengagungkan inovasi dan kebebasan kalau masih ketergantungan instruksi dan pengulangan? Bisa jadi karena tidak memilikinya. Bukankah kita memuji agungkan dan mengingin tuntutkan hal yang tidak ada pada kita.
Seperti ponsel dua belas jutaan, begitu jadi idaman ketika tidak memilikinya. Seketika jadi beban, ketika sudah memilikinya. Makanya butuh perlindungan dari instruksi yang bertindak sebagai asuransi dan repetisi yang dijadikan isolasi.
Kalau yang dua belas jutaan sudah jadi beban, bukannya jadi tanggung jawab. Apalagi yang dua puluh jutaan. Belum lagi yang tiga puluh jutaan. Yah, tidak perlu sampai situ dahulu. Awalannya, bisa mulai dari naik sejuta dulu saja dari yang terdahulu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 514 Apa Yang Perlu Saya Lakukan?
Adalah pertanyaan yang lagi sering saya dengarkan berseliweran di udara, ini dapat jadi salah satu indikator ketakutan . Takut salah, misalnya. Bahkan dengan kemampuan sebesar apapun dan keterampilan semahir apapun, akan batal oleh ketakutan berbuat salah ini. Mirisnya, salah yang terjadi pun bisa…

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

