AES33 Harmoni Dalam Sepiring Rujak

Menu makan siang ini lotek, lotek LUGINA cukup terkenal di kawasan Gegerkalong, Cipedes, dan sekitarnya. Kalau hanya beli lotek masih terasa kurang, jadi sekalian beli rujaknya. Entah kenapa, sekarang jika melihat sesuatu saya langsung muncul berbagai pertanyaan. Dulu tidak pernah, makan ya makan saja… Beres urusan! Kayanya sih gara-gara masuk Semi Palar, memandang sesuatu itu terkoneksi… (^.^)v
Satu persatu buah-buahan saya colek ke sambal kacangnya, bengkoang, nanas, mangga, mentimun, dan ubi (jambu airnya pas lagi ga ada). Ada rasa manis, asam, dan pedas dari sambal kacangnya. Melihat fotonya saja menggugah selera ya, apalagi menikmatinya, ueeenaaakkk…. (^,^)d
Ternyata, ada nilai-nilai warisan leluhur dalam seporsi rujak.
Secara etimologi, kata ‘rujak’ merupakan turunan dari kata ‘rurujak’ yang ditemukan dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno sekitar abad ke-10. Dahulu rujak merupakan makanan para bangsawan karena tampilannya menyerupai salad Eropa. Penyajian rujak juga berbeda tergantung dari pangan yang tersedia di suatu daerah. Misalnya di Jawa Timur terkenal dengan “Rujak Cingur” yang terbuat dari moncong sapi yang sudah dibersihkan dan direbus dicampur dengan sayur, buah, tempe goreng, dan tahu goreng yang dipotong dadu. Bali populer dengan “Rujak Bulung” terbuat dari rumput laut yang direbus dicampur dengan bumbu khas dan disiram dengan kuah pindang. Di Aceh ada “Rujak U groeh” dibuat dari batok kelapa sebagai bahan utama dan dicampur dengan bumbu yang terbuat dari gula merah, cabai, tepung roti, dan perasan jeruk nipis. Di Jawa Barat sendiri ada Rujak Ulek, Rujak Bebek, dan Rujak Cuka. Seger ya….
Dalam masyarakat Sunda dikenal sebuah konsep Tritangtu, yang meyakini bahwa dunia tempat kita tinggal ini terdiri dari tiga bagian; dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Dunia bawah merupakan dunia kegelapan tempat tinggal mahluk jahat yang lebih dikenal dengan alam neraka. Dunia tengah adalah dunia yang manusia, hewan, dan tumbuhan tempati. Sedangkan dunia atas merupakan tempat tinggal para dewa yang dikenal sebagai kahyangan. Konsep tritangtu inilah yang digunakan nenek moyang kita dalam meracik seporsi rujak.
Dunia bawah dalam rujak diwakili oleh jenis umbi-umbian seperti, bengkoang dan ubi. Dunia tengah diwakili oleh buah-buahan yang hidup di tanah tapi pohonnya tidak terlalu tinggi seperti buah nanas. Dunia atas diwakili oleh buah-buahan yang tumbuh di atas pohon seperti; mangga, jambu, atau kedondong. Rujak merupakan simbol dan wujud sebuah keseimbangan dunia.
Bicara soal rasa, dalam seporsi rujak ada rasa manis dan asam dalam buah serta rasa pedas dalam sambalnya. Ada yang mengatakan rujak ibarat kehidupan yang penuh dengan liku-liku, namun setiap manusia mendambakan manis kehidupan yang berarti bahagia. Rasa asam diibaratkan musibah atau penderitaan yang harus dilalui dengan bijaksana. Serta rasa pedas ibarat tantangan yang harus dihadapi manusia untuk menemukan kebahagiaan yang diidamkannya. Kombinasi ketiganya memberi warna dalam hidup kita yang sepatutnya kita nikmati.
Jika ingin memakan rujak, jangan lupa baca doa dulu ya… Semoga hidup kita selalu diberi keberkahan dan keseimbangan… Dan semoga dunia tempat kita tinggal ini kembali memulihkan dirinya dan berharmoni satu sama lain.
Salam,
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES22 White Tea
Masih tentang teh... Kali ini saya mau membahas teh putih. Teh putih terbuat dari tanaman Camellia sinensis. Daun dan kuncupnya dipetik tepat sebelum mereka benar-benar terbuka, ketika mereka ditutupi oleh rambut putih halus. Teh hijau dan teh hitam juga dibuat dari tanaman yang sama. Namun, metode…

AES952 Lagi tentang Udunan
Entah kenapa kata Udunan ini sedang kerap sekali muncul dalam pikiranku, akhir-akhir ini. Dan ya siang tadi sempat berbincang dengan beberapa rekan tentang Udunan ini. Semakin didalami, konsep Udunan ini semakin memikat hati. Lebih jauh, Udunan ini sepertinya bisa jadi salah satu kata kunci tentang…

AES123 - Menghidupkan Pranoto Mongso
Waktu aku membuat proyekku di semester lalu tentang kalender dan persepsi waktu, aku sedikit-sedikit mendengar tentang Pranoto Mongso, sistem perhitungan kalender tani di Jawa. Bagan yang kutemukan di internet berbentuk layangan jungkir balik dengan bulatan di tengah. Waktu itu, aku tidak mempelaja…


