AES351 Mengubah Satir

Karena satir tidak mengubah apapun, baiklah untuk mengubah satir. Memang yang bikin takut kan kehilangan kebiasaan lama, bukan melakukan kebiasaan baru. Wajar kalau seringkali jadi bernyanyi satir, bertekad mengubah tak berikhtiar berubah.
Perubahan itu kan soal berubah, bukan mengubah. Makanya satir tidak terhitung sebagai upaya, apalagi usaha. Satir tidak mengubah apapun, karena kalau ada perubahan jadi tidak bisa satir lagi. Kehilangan bahan soalnya, makanya satir itu sebenarnya mendukung status quo.
Bagaimana mengubah satir, tidak bukan adalah dengan keterbukaan. Keterbukaan terhadap perubahan definisi keterbukaan. Tegar tengkuk pada definisi keterbukaan usang malah menjadikannya ketertutupan, jebakan untuk mengulang kebiasaan satir.
Baiklah untuk mengubah satir. Memang kehilangan kebiasaan lama itu menakutkan. Wajar kalau satir jadi pelampiasan ketidak mampuan membawa perubahan. Tekad perlu diikuti upaya dan usaha berubah. Lupakan soal mengubah. Lupakan soal kebiasaan satir.
Selalu ingat, katakanlah yang telah dilakukan bukan yang akan dilakukan. Katakanlah pembiasaan baru yang relevan, bukan kebiasaan lama yang usang. Katakanlah langkah-langkah, bukan pokok-pokoknya. Katakanlah mari cari tahu, bukan enggak mau tahu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
