AtomicEssay

AES354 Delapan Tahun Lalu

leoamuristpenulis arsip2

Asektisme. Asketisme lagi. Sepertinya tahun dua ribu empat belas awal ini melanjutkan perjalanan dua ribu dua belas akhir. Sepulang dari Tanimbar, sempat mampir ke pertapaan trapist ocso rawa seneng.

Menarik sih, hanya ketika menginjakkan kaki di sana rasanya bukan tempatku di situ. Hanya, asketisme masih terngiang di kepala. Jadi awal tahun dua ribu empat belas ini kegiatannya hanya membaca & berjalan.

Jalan kaki dari Cimahi ke Bandung lewat Cihampelas menyusuri sungai, muncul di bawah jalan layang Cikapayang. Wah, ramai bubaran peresmian taman jomblo. Lewati saja, terus berjalan dan mampir di vihara vimala dharma, Dago.

Duduk diam di ruangan besar di lantai dua, lupa apa nama ruangnya. Sekitar dua jam meresapi apa yang ada. Bosan. Turun. Pamitan satpam. Lanjut jalan. Berhenti di biara OSC Sultan Agung, minta makan.

Hari-hari dilalui dengan membaca. Niatnya live in di biara OAD Cihanjuang, hanya rasa malas koq lebih kuat. Jadinya di rumah orangtua saja, baca baca baca. Zarathustrha Awareness Tolstoy Kroptkin Laotze dst dll. Beberapa terselesaikan, beberapa tidak.

Untungnya saat itu sudah ada dalam tahap kesadaran bahwa sumber kebodohan terbesar adalah bacaan yang tidak diselesaikan. Makanya, jadi semakin ingin masuk ke dalam dunia asketisme. Mulai meditasi, panduannya ya Sadhana & examene dulu saja.

Hingga akhir tahun, tabungan menipis. Batasan diri mulai tersentuh. Realita mulai kelihatan. Hidup bukan soal mengubah, justru soal berubah. Berubah bukan soal mengganti, justru soal memenuhi. Yang ada sekarang di sini saat ini.

Ketik lamaran, susun resume, kirim-kirim. Ditolak. Ulangi lagi. Teruskan lagi. Sambil menunggu, terlibat (lagi) sebagai panitia tahbisan Uskup Bandung (lagi). Ya mungkin ini jalan untuk kembali ke bumi setelah berbulan-bulan asik di awang-awang.

Benar saja, tidak lama ada panggilan. Dunia humanitarian lagi, yang lebih full sih. Dunia kerja pertama kan teknik sipil banget, kedua tuh humanitarian-teknik sipil, ketiga ini full humanitarian. Program officer disaster risk reduction & preparedness.

Tiga bulan sebelum akhir tahun, kerjaan luar biasa padatnya. Sinabung Slamet Baleendah Jakarta, gempa erupsi banjir gempa. Bangun di bandara, tidur di stasiun. Sampai gak sempat sewa kosan di Ibukota.

Ditutup dengan kecelakaan yang bikin jidat dijahit 21 jahitan. Sepertinya kecelakaan ini bermaksud meluaskan kapasitas otak saya, soalnya habis kecelakaan banyak hal baru yang kelihatan. Kebaruan yang selama ini saya inginkan.

Nah, setiap pencapaian kan perlu pengorbanan. Pencapaian pada penglihatan biasanya perlu pengorbanan pada perasaan. Bagaimana bisa melihat alasan kalau tidak merasakan patah hati. Bagaimana bisa melihat kemanusiaan kalau tidak merasakan kekecewaan kepada manusia. ihiiiyyy… amor fati fatum brutum. Asek..

Komentar (1)

Andy Sutioso
Hmm, ada yang baru ini sepertinya kak Leo... Aseekisme...

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41