AES356 Enam Tahun Lalu

Awal tahun yang sendu dan haru. Sudah hujan, gerimis pula. Yaiya lah… Eh, iya ya. Maksudnya, sudah hujan deras dilanjutkan dengan gerimis seharian. Setelah menutup usaha meja kopi di teras samping trotoar simpang dago, saya mengambil jeda. Merangkai kembali kepingan-kepingan perjalanan selama tiga puluh tahun ke belakang. Seingatnya saja sih.
Banyak kepingan keterlibatan dengan beragam orang di lapangan. Walaupun polanya sama, fenomenanya berbeda-beda. Pekerjaan terdahulu berorientasi membawa perubahan kebiasaan baru yang lebih resilien, dengan meningkatkan kapasitas lewat pelatihan. Seringkali kegiatan tersebut tidak efektif membangun kebiasaan baru, karena struktur karakter para peserta yang sudah jadi oleh kebiasaan lama.
Lama-lama, menemukan simpul bahwa perubahan ada di dunia pendidikan yang lebih mendasar. Terlintas nama Rumah Belajar Semi Palar. Tidak asing karena dahulu pernah mampir ke lokasi untuk lihat-lihat, itu pun karena salah satu rekan satu tim anaknya bersekolah di sana. Hal pertama yang saya lakukan adalah melihat, apakah sudah ada jenjang SMA karena dahulu belum ada. OH, sudah ada. Baiklah, coba aplikasi peluang bergabung.
Kenapa jenjang SMA? Karena pengalaman terdahulu yang keliling Jawa Barat, lanjut ke Padang, kemudian Aceh banyak menangani pelatihan SMK. Paling tidak polanya sudah dikenali, dan di sisi lain SMA itu seperti titik pengulangan fase TK. Semacam anak TK yang referensinya sudah terisi. Pola sudah jelas & referensi cukup dikenali, secara kalkulasi kapasitas mencukupi untuk masuk area ini.
Demikianlah per Maret 2016 saya resmi bergabung di Semi Palar, sebagai kakak magang. Jadi kakak penuhnya di April. Jenjang KPB dari awal sampai sekarang, sepertinya memang perjalanan pemenuhan diri yang perlu dialami. Tahun pertama menjadi kakak yang paling tidak disukai, sampai ada permintaan agar Kak Leo tidak diterima di Smipa dari beberapa siswa kelas
Tahun kedua mulai menerima kenyataan, bahwa selama ini saya belum melepaskan diri sendiri menjadi diri sendiri. Perubahan itu bukan soal mengubah, justru soal berubah. Bukti bahwa diri berkembang adalah lingkungan dan orang di sekitar menjadi berkembang juga. Kedua prinsip ini membawa Kak Leo menjadi kakak yang jadinya dipertahankan, oleh para siswa kelas yang tadinya menolak.
Tahun ketiga, penjelajahan sebulan di Desa Batulawang, Karimun Jawa utara. Bukan hanya untuk para siswa, ternyata untuk saya pun kegiatan ini menjadi kunci yang membuka gerbang pendewasaan lebih lanjut. Gerbang keberanian adalah salah satu yang terbuka. Melangkah masuk ke dalamnya berarti melepaskan sembilan puluh sembilan hal, untuk menyisakan satu yang akan dijalani hingga tuntas. Seringkali ini disebut sebagai, pilihan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
