AES378 Perginya Guru Bangsa

Kemarin masuk pesan di hape saya yang entah kenapa isi beritanya segera menusuk ke perasaan saya. Sedih... Beritanya adalah kepergian Buya Safii Maarif. Salah satu sosok yang saya anggap guru. Saya juga memandang beliau sebagai guru bangsa. Kemarin beliau pergi dan entah kenapa rasa duka segera menyergap. Membaca berita itu saya segera membatin "Aduh... ". Kebetulan di sebelah saya ada kak Novi, saya menyampaikan, "Ini kak, Buya Syafii Maarif meninggal dunia, beliau saya anggap guru saya. Saya cukup mengikuti pemikiran-pemikiran beliau."
Satu sosok yang saya nilai sebagai seseorang yang sudah mencapai ranah kebijakan, seorang yang sudah paham betul hakikat kemanusiaan dan paham esensi kehidupan. Hal itu sangat tercermin dari segala apa yang ditampilkan beliau sehari-hari. Cara beliau bersikap, berbicara, bertingkah laku, tercermin dari apa yang dikerjakannya selama hidupnya. Walaupun beliau adalah tokoh Muhammadiyah, apa yang beliau sampaikan berpijak pada pemahaman terhadap agama yang sangat mendalam - yang sudah mencapai dimensi Spiritualitas. Di dalam ranah spiritualitas segala sesuatu adalah satu. Agama, bagaimanapun adalah jalan menuju Tuhan. Tuhan Yang Esa. Tuhan memang menciptakan satu semesta yang isinya keberagaman. Itulah hakikat ciptaan Tuhan.
Tidak banyak manusia-manusia Indonesia yang seperti beliau. Saya langsung teringat pada Gus Dur dan Romo Mangun. Sosok yang lain yang bagi saya juga istimewa adalah Cak Nur (Nurcholis Madjid). Eh, keesokan harinya, muncul gambar di atas ini di grup WA yang saya ikuti, mas Ipong yang menyampaikannya. Nuhun pisan mas Ipong. Gambar tersebut - teks yang ada di dalamnya membuat saya perlu mengoreksi judul di atas ini menjadi Pulangnya Guru-guru Bangsa. Sejuk sekali melihat gambar di atas ini, bagaimana Gus Dur dan Romo Mangun yang dengan hangatnya menyambut Buya Maarif kembali pulang. Pulang ke tempat yang semestinya, di alam kedamaian, lepas dari karut marut kehidupan manusia yang masih serba kebingungan dengan segala sesuatunya. Tugas beliau sudah selesai dan sekarang tugas beliau beralih ke tangan kita-kita yang masih harus memperjuangkan kebaikan, menata kembali karut marut kehidupan yang ditimbulkan karena ketidak-sadaran kita manusia. Semoga kita bisa.
Selamat jalan Buya. Terima kasih atas segala inspirasimu. Sampai jumpa. Semoga Buya dan semua guru bangsa tetap mendampingi kami semua dari atas sana. Salam hormat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES791 Bendera, Upacara dan Spirit Ke-Indonesia-an
Setiap tanggal 17 Rumah Belajar Semi Palar menyelenggarakan Upacara Bendera. Ritual penghormatan Sang Merah Putih dan pengkhidmatan terhadap kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang udaranya bisa kita hirup dalam-dalam setiap harinya saat ini. Pagi harinya, saya menerima sebuah video pendek dari mas…

AES312 Sang Pengibar Bendera
Ada satu sosok unik di Semi Palar yang mungkin sulit ditemukan di sekolah atau di tempat-tempat lain. Di Semi Palar ada Sang Pengibar Bendera - Imam Suryantoko. Di Semi Palar dipanggil kak Imam. Saya berkenalan dengan kak Imam di Rumah Nusantara di sekitar tahun 1998. Di tahun-tahun itu saya sedang…

AES248 Setelah Jokowi ?
Sudah lama ingin menulis tentang ini. Siapa setelah Jokowi? Siapakah tokoh yang pas bisa menggantikan Jokowi memimpin Indonesia. Setelah dua periode menikmati kepemimpinan Jokowi? Siapa yang layak menggantikannya? Hmm, tulisan ini bukan tentang bertemakan politik, tapi lebih tentang kebangsaan. Kal…
