AES398 93 Thousand Miles

Hmm kali ini tulisannya sedikit agak mellow, terkait dengan kepergian Rico mengejar mimpinya di Jerman sana. Pergi belajar di luar negeri memang sudah jadi keinginan besar Rico sejak lama.
Karena berbagai hal, pandemi salah satunya, rencana kepergian Rico memang terbentur banyak penghalang. Bagusnya Rico ga patah arang dan terus mencari jalan. Walaupun di beberapa titik saya melihat berat juga buat dia karena selepas berproses di KPB, dia seakan belum menemukan kelanjutan jalan yang bisa dia tempuh. Ada waktu-waktu dia merasa tersesat dan bingung ke mana harus melangkah.
Rico mengisi waktunya dengan berbagai hal sesuai minatnya, dia sempat aktif di Sekodi (Sekolah Damai Indonesia) juga bergabung di PSI. Rico juga sempat diajak bergabung oleh Ahkam di KPED (Komite Pemulihan Ekonomi Daerah - propinsi Jawa Barat) dan ikut hadir dalam beberapa pertemuannya. Selain itu Rico juga menyelesaikan beberapa mata kuliah jarak jauh (Online Courses).
Sampai muncul gagasan dari kakaknya Inka untuk mencoba jalan yang sama dengan apa yang Inka lakukan sewaktu berangkat ke Jerman dulu - yaitu lewat jalur Au-pair. Prasyarat pertama memang bahasa, dalam hal ini bahasa Jerman. Gayung bersambut, tempat kursus Jerman di mana Inka belajar dulu menyambut Rico dengan tangan terbuka. Dalam waktu singkat Rico ikut kursus bahasa di BBG (Bina Bintang Graha). Karena program belajarnya yang intensif, kesibukan Rico segera beralih ke belajar bahasa Jerman.
Dari titik itu, segala sesuatu terasa berjalan sangat cepat, ibarat menekan tombol fast forward. Sampai di titik Rico memesan tiket pesawat, segala sesuatu terasa buram (blur) bagi saya. Di titik itulah jadi nyata bahwa Rico juga akan pergi jauh meninggalkan kami seperti kakaknya beberapa tahun lalu. Tanggal 29 Juni, Rico berangkat ke Jerman. Di hari keberangkatannya, tulisan saya berjudul No Looking Back.

Saya segera teringat apa yang dituliskan Kahlil Gibran bahwa anak anak kita adalah anak panah kehidupan, dan orangtua adalah busurnya... Entah apa yang dirancang oleh sang pemilik kehidupan.
Beberapa hari setelah Rico berangkat saya mendengarkan lagu ini di perjalanan pulang dari Semi Palar. 93 Million Miles from the Sun yang dibawakan oleh Jason Mraz. Lagu ini langsung menusuk ke hati saya dan membuat air mata saya menetes.
Ya betul. Sejauh apapun kalian pergi, kalian selalu bisa pulang, dan tangan kami akan selalu terentang lebar.
Ninety-three million miles from the sunPeople get ready, get ready
'Cause here it comes it's a light
A beautiful light
Over the horizon in to your eyes Oh, my, my
How beautiful
Oh my beautiful mother
She told me Son in life you're gonna go far
If you do it right
You'll love where you are
Just know that wherever you go
You can always come home Two hundred forty thousand miles from the moon
You've come a long way to belong here
To share this view of the night
A glorious night
Over the horizon is another bright sky Oh, my, my
How beautiful
Oh my irrefutable father
He told me Son sometimes it may seem dark
But the absence of the light is a necessary part
Just know, that you're never alone
You can always come back home Oh oh oh
Oh oh oh
You can always come back Every road is a slippery slope
There is always a hand that you can hold on to
Looking deeper through the telescope
You can see that your homes inside of you Just know, that wherever you go
No you're never alone
You will always get back home Oh oh oh
Oh oh oh
Oh oh Oh oh oh
Oh oh oh
Oh oh Ninety-three million miles from the sun
People get ready, get ready
'Cause here it comes it's a light
A beautiful light
Over the horizon in to our eyes
mulai ditulis di bulan Juli dan baru dituntaskan hari ini, 8 Oktober 2022
Komentar (3)
Wah.. jarang-jarang kak Andy menulis yang seperti ini. Saya mungkin akan merasakan beberapa waktu lagi. Btw, Video jason Mraz itu lokasinya di Red Rock Amphitheater, Sekitar 25 km dari Denver atau 125 km dari kota saya. Teater terbuka yang sangat keren didesain seperti pahatan dari batu merah di atas pegunungan yang dapat menampung lebih dariu 9000 pengunjung. Saya sudah ke sana beberapa kali.
Baru baca... jd ikut mellow nih...
Haha nuhun udah baca Husen. Iya dulu mah ga kebayang anak-anak pada jarauh. Tapi generasi muda sekarang sudah sangat global ya visi dan cara berpikirnya.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES390 No Looking Back
Rabu, 29 Juni 2022, buat saya pribadi adalah momen besar - sebagai orangtua tentunya. Bukan pengalaman pertama, karena sudah beberapa kali mendapatkan pengalaman semacam ini. Pertama sewaktu Rico berangkat ke Temanggung untuk proyek pribadinya di KPB. Kedua waktu Inka (kakaknya Rico) berangkat ke J…

AES#041 Perjalanan Mandiri Sebagai Orang Tua
Hari Jumat beberapa waktu yang lalu kelasnya Boni mengadakan perjalanan mandiri ke rumah narasumber masing-masing untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan di Jawa. Ini dalam rangka persiapan Perjalanan Besar ke Jawa Tengah yang akan diselenggarakan bulan Februari yang akan datang. Perjalana…
Murdeani72
AES130 Melepas Kepergian
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari kemping di sekolah. Anak kecil itu nampak bersemangat sekaligus gugup, dalam perjalanan ke sekolah dia tampak sedang mengingat-ingat apa saja perbekalan yang sudah disiapkan apakah ada yang tertinggal atau sudah lengkap. Alisnya menekuk, matanya melihat ke…
Sanya21

