AtomicEssay

AES398 Auto

leoamuristpenulis arsip2

Belakangan yang kelamaan ini rasanya stagnan, melihat segalanya seakan usang. Ah, membosankan. Tiadakah kebaruan yang bisa diperlihatkan di hadapan?! Eh, sebentar. Ataukah ini sedang terjebak dalam ilusi ke-sudah pernah-an. Seperti tidak ada yang baru karena merasa sudah tahu, padahal hanya regresi linier ingatan terdahulu. Begitukah?

Dengan kesadaran bahwa kita hanya bisa mengerti melalui kerangka pemahaman sendiri, sepertinya begitu! Melihat keusangan dari lingkungan dan orang lain karena diri sendiri yang sudah mulai usang. Merasa stagnan dan bosan karena kerangka pemahaman sendiri yang masih sama, sehingga tidak bisa mengindera kebaruan yang ada di luaran.

Mencari-cari hal baru untuk mengembangkan kerangka pemahaman sendiri ini pun, ternyata tidak jadi solusi yang menyegarkan. Malahan memperkental persoalan, karena keotomatisan respon alami kerangka diri meregresi linier realita persepsional ini sudah begitu berkerak menjadi karakter. Hmm… kelintas kutipan consciousness is disease. Memang sih, dis-ease.

Yasudah, coba berhenti mencari (searching) dan mulai melihat (looking). Penemuan pun terjadi, menemukan catatan-catatan lama di sudut-sudut kerangka. Ternyata, kerangka pemahaman diri yang selama ini dipergunakan secara otomatis belum dikenali dan termanfaatkan secara otonomi. Ada hal eksisting di kedalaman yang ternyata menjawab kebutuhan akan kebaruan di kekinian.

Seperti mantra alur terus berjalan dan peran selalu terisi yang di sudut fondasi kerangka tiang utama kesadaran diri. Ada juga amor fati fatum brutum yang tercatat di pilar ubermensch yang paling disukai pada masa itu. Bahkan mitos Sisipus yang beberapa tahun lalu masih dipergunakan pun, malah dilupakan sekarang oleh kesibukan mencari kebaruan.

One who cannot command, must obey. Yang tidak mampu otonomi diri, pastilah terjebak otomatis diri. Eh, jadi teringat. Bukankah situasi ini pernah terjadi di sekitar tujuh tahun lalu yang membawa diri berlatih menggunakan tangan kiri. Niatnya untuk menyeimbangkan otak, jadinya malah otot dada bahu depan besar sebelah.

Hanya gapapalah, toh gerakan hadir dari usaha untuk menyeimbangkan ketidak seimbangan. Kalau tidak ada ketidak seimbangan, tidak ada pergerakan. Stagnan. Yang jadi persoalan pun akhirnya sekarang bergeser, bukan soal mencari-cari dan menemukan kebaruan. Justru, soal merespon kenyataan (persepsi akan kenyataan) secara otomatis (automatic) atau secara otonomi (autonomy).

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41