AtomicEssay

AES409 Sehingga Realita Bisa Berlangsung Tanpa Ekspektasi

leoamuristpenulis arsip2

Kalau asumsi kan melihat ke belakang untuk menilai yang sekarang. Sedangkan ekspektasi tuh melihat ke depan sebagai hasil dari penilaian yang sekarang. Yang jadi persoalan adalah kalau asumsinya tidak kuat, sehingga penilaian sekarang kurang jelas. Ekspektasi ke depan bisa jadi tuntutan, bukannya harapan.

Tuntutan itu lebih terasa motif personal ya daripada harapan yang lebih ke motif individual. Gampangnya, personal itu lebih ke selera sedangkan individual itu lebih ke seleksi. Ini hubungannya dengan harapan, melalui seleksi kan bisa hadir kolaborasi atau paling minim kooperasi. Gampangnya (lagi), kolaborasi itu mesti setujuan sedangkan kooperasi tidak mesti.

Ekspektasi kolaborasi individual perlu direalisasi dengan benar agar tetap relevan dan aktual. Kalau asumsinya kuat sih aman, tinggal laksanakan. Kalau asumsinya tidak kuat, itu yang perlu satu langkah tambahan. Yaitu, merespons realita tanpa ekspektasi. Paradoks memang, dimulai dari asumsi dilanjutkan ekspektasi kemudian membuangnya.

Dalam kondisi asumsi tidak kuat, alias validitas referensinya lemah; realita ditemukan kalau ekspektasi dibuang. Kesadaran yang perlu dipakai adalah apa yang dibuang kalau tidak ada. Jadi ekspektasi memang diperlukan ada, untuk dibuang. Lalu, bagaimana caranya membuang ekspektasi yang ada tadi biar jadi tidak ada?

Salah satu caranya antara lain adalah, merespons ekspektasi itu sendiri. Realita akan terus mengalir, terganggu ekspektasi atau tidak, terdukung ekspektasi atau tidak, ya mengalir. Walaupun realita bisa menjadikan ekspektasi itu bagian darinya, ada pilihan untuk menanggalkan itu agar lebih ringan kita merespon realita.

Eh bentar, kalau ekspektasi tidak seberpengaruh itu; bisa jadi membuang ekspektasi sebagai langkah tambahan yang diperlukan berarti membuang orang yang berekspektasi itu dong¿¡

Gak perlu sampai orangnya yang dibuang, ekspektasinya aja cukup. Orangnya sih perlu masuk kondisi dimana ia yang berekspektasi merespon ekspektasinya sendiri, sehingga realita bisa berlangsung tanpa ekspektasi.

Lagian, seringkali orang yang berekspektasi itu adalah diri kita sendiri. Yang ini pun, realita. Makanya, tidak salah juga kalau dibilang bahwa realita adalah soal masing-masing merespons ekspektasi masing-masing.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41