AtomicEssay

AES427 Compassion Through Virtue

leoamuristpenulis arsip2

Terinspirasi prinsip Caritas in Veritate yang selalu perlu dihayati (bukan dikhayali melalui definisi-definisi dialektika apalagi diskursi) dalam keseharian. Yang bahkan makan pun perlu minta bukti pembayaran dan pengeluaran seribu dua ribu untuk parkir beserta toilet pun ada catatannya.

Bahwa kasih, kebaikan, bahkan niat baik perlu melalui dan berada dalam kebenaran. Seperti saat hendak membantu; intensi, kualitas, kuantitas, bentuk, dan termasuk metodanya perlu jelas. Transparent and accountable. (Lulusan pelatihan MANGO nih )

Jadi kalau kita kelebihan ngasih ke tukang parkir, atau kebanyakan bayar ke penjual makanan, termasuk bagi-bagi makanan yang kelebihan disediakan. Itu bukan sedekah berbagi dan bukan bentuk dari kasih (charity), malahan itu bentuk dari sunk cost fallacy!

Kalau memang mau berbagi makanan; niatkan, penuhi kualitasnya, pas-kan jumlahnya, dan susun alur pembagiannya. Transparan dan akuntabel, adalah bagian dari responsibility kan response-ability. Kalau spontan itu bukan responsibilitas lagi, itu sih reaktif aja. Bukan berbagi, justifikasi aja itu.

Bahkan lebih menyebalkan lagi; kasih (caritas) itu dijadikan bentuk apologi akan ketidak mampuan diri untuk benar (veritas). Kemudian dijadikan bahan obrolan seakan-akan ini adalah materi dialektika yang penting, dan muncul wacana hendak dijadikan diskursus tersendiri. Aduuumamasayangeee.. onde mande, alamaaaak...

Okeh balik lagi, ke compassion through virtue.

Pertama-tama perlu ada passion, diri sendiri apa dan orang lain apa serta terutama komunitas ini apa; passion-nya. Passion adalah penderitaan/kesusahan/pengorbanan/konsekuensi logis yang sanggup untuk ditanggung, demi mencapai misi tertentu atas dasar harapan terwujudnya visi tertentu. Dedikasi, bukan da' dikasih.

Selanjutnya through, yang artinya melaluinya secara aktual dan relevan. Jelas perlu memperhatikan lingkungan sekitar, mempertimbangkan orang lain, melampaui kebijak-sanaan dengan bertindak bijak-sini juga. Gak sekadar ber-retorika, perlu sampai kepada meng-animasi. Integrity, grit bukan greed.

Jadi keingat, tiga pilar perubahan fundamental. Edukasi (membebaskan), animasi (menghidupkan), fasilitasi (menggerakkan). Ini deh kalau gak salah, akomodasi gak masuk seingat saya. Hmmm...

Terakhir adalah virtue, hmmm... teorinya sih akan panjang kalau dijelaskan. Pragmatisnya sih, yang ber-virtue akan membuat lingkungan dan orang lain di dalamnya merasa nyaman terhadap keberadaan dan kehadirannya. Kalau tidak, itu vice bukan virtue. Lalu kalau banyak pembelaan diri jadinya victim, bukan victor. Trust, bukan trash.

sumber gambar: pinterest

Komentar (1)

mmatheusaribowo

Hatu nuhun pencerahannya, Kak Leo!

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES513 Saksang Kapau, Kairos!

Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

leoamurist00
AtomicEssay

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat

Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

leoamurist00
AtomicEssay

AES511 Ākāra

Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

leoamurist41