AES44 Mengenal dan Mencintai Diri
Saya membuka diskusi di kelas daring pagi ini dengan meminta kesediaan teman-teman Gatrik untuk menceritakan tentang dirinya.
Seseorang berinisiatif untuk jadi orang pertama yang bercerita. "Kak, aku baru tau kalau lingkar kepalaku hanya beda 2 cm dengan lingkar perutku.", "Kak, karena Di penasaran, jadi Di mengukur panjang telinga Di dan panjang telinga kucing Di, ternyata sama, panjangnya 4 cm.", "Hidung aku mancung dan besar", "Hidung akku ga mancung tapi juga ga pesek, normal lah", "Bentuk gigi ada beberapa yang miring, bibir bagian atas lebih tipis bibir bawah tebal." dan masih banyak lagi cerita anak-anak tentang ciri fisiknya sesuai dengan amatan.
Dengan sasaran supaya anak-anak lebih mengenal dirinya, menghargai setiap perbedaan, dan mengetahui bagaimana cara mengapresiasi dirinya. Momen ini merupakan momen yang sangat berharga untuk saya dan sembilan anak yang sangat menghargai perbedaan dan mencintai diri mereka. Proses fasilitasinya pun sangat menantang untuk saya, bagaimana cara supaya sasaran itu dapat tercapai namun keluar dari gagasan anak-anak sendiri.
Pernyataan reflektif juga muncul dari anak-anak;
"Kak, aku pernah sakit perut karena abis makan terus langsung olahraga lari-lari. Harusnya diem dulu biar ga sakit perut."
"Karena aku kurang minum air putih, jadi bibir aku kelupas, terus aku suka gemes jadinya dikelupasin sendiri, jadi luka dan berdarah."
"Aku sih suka makan buah sama minum jus, jadi pencernaan aku baik."
"Pernafasan aku bagus, karena hidung aku selalu bersih. Kalau lagi ada kotoran hidung biasanya suka susah nafasnya."
Bahkan yang membuat saya takjub, ketika saya membuka diskusi dengan bertanya bagaimana pendapat mereka tentang ciri fisik yang berbeda satu sama lain antara teman. "Ya terima, ga kaya di luar negri yang beda warna kulit jadi berantem dan musuhan." jawab seorang anak.
Saya malah bertanya-tanya dalam hati, kok bisa ya anak-anak usia 10 tahunan menyatakan hal-hal seperti ini.
Saya menutup diskusi dengan pertanyaan, "Apa yang kalian rasakan tentang diri kalian?", "Apakah ada yang mengeluh kenapa mata saya begini, kenapa hidung saya begini?", "Apakah kalian menerima dan manyayangi diri kalian sendiri?" dan semua mengangguk bersamaan.
Semoga mereka benar-benar menerima diri, mensyukuri diri dengan kesadaran, dan menghargai perbedaan.
Tentu saja, bagi saya sendiri momen ini jadi bahan refleksi dan belajar. Mereka guru buat saya!
Sudahkah teman-teman menerima, mencintai, dan bersyukur untuk diri sendiri?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES47 Melihat Kedalam Diri
Setelah anak-anak Kelompok Gatrik melakukan pengamatan tentang ciri fisik diri mereka, dan bagaimana menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh mereka sebagai upaya mensyukuri dan mencintai diri, beberapa hari lalu Kakak memandu mereka untuk melihat kedalam diri. Bukan membahas tentang spiritual, namun…

AES179 Sabar..
Ketika agenda dan olahan mulai memadat, ada kecenderungan dalam diriku untuk semakin ketat mengaturkan segala sesuatu. Seperti terkondisi untuk terus berstrategi agar seiring waktu berjalan semua agenda dan kegiatan tetap berjalan baik sesuai jadwal dan sasaran. Kerap terjadi, bahkan hampir selalu,…

AES015 hal yang mudah namun sulit
ini aku, aku yang ingin didengar namun sukar untuk mendengar. ini aku, aku yang selalu merasa buruk walau situasi tak selalu buruk. ini aku, aku yang menutup telingaku untuk orang namun memaksa orang untuk embuka telinga mereka untukku. orang macam apa aku ini? hanya haus validasi, ingin dikasihani…
jovanna34
