AES467 Mengerti Kalau Tidak Mengerti, Menyadari Ketidak Sadaran

Selalu ada yang lebih penting daripada yang paling penting, kalau hari paling penting adalah besok maka hari ini adalah hari yang lebih penting. Kalau saya diberikan waktu lima jam untuk menebang pohon, empat jam akan saya gunakan untuk mengasah mata kapak. Kata tukang batu yang jadi presiden waktu itu, hmm… kalau ga salah inget.
Kalau momen terpenting itu nanti dan momen yang lebih penting dari yang paling penting itu adalah sekarang, maka nanti itu tidak ada. Selalu sekarang, selalu, dan sesekarang-sekarangnya saja yang ada. Kita menghitung melukis menulis melakukan apapun bahkan tidak melakukan apapun, ini bukan demi nanti yang tidak ada. Ini semua hanya bentuk respon saat ini.
Yang paling benar adalah memang ini semua demi ke-sekarang-an, dan yang lebih benar adalah bahwa kita takut mengakuinya sehingga kita menciptakan tujuan. Untuk apa, bagaimana, bahkan kenapa adalah pertanyaan-pertanyaan yang mengalihkan kita dari ke-sekarang-an dan membawa kita ke nanti yang tidak ada itu. Ya, bahkan pertanyaan kenapa.
Coba sadari, pertanyaan kenapa hadir setelah respon aktual saat ini dan kemudian jawaban dari pertanyaan itu hadir setelahnya lagi. Betapa bukan pengalihan kan, kita terbawa kepada dua langkah ke depan dan mengabaikan ke-saat ini-an. Lalu mengapa pengalihan ini kita agungkan, karena meredakan rasa tidak nyaman dari menjalani ketidak tahuan.
Kesekarangan atau kesaat inian kan soal ketidak tahuan, yang dikatakan yang belum selesai di pemikiran dan yang dilakukan yang belum selesai di pemahaman. Saya sedang mengetik tulisan ini bukan karena mengetahui apa yang saya tulis, saya hanya menulis saja saat ini. Saya mengetahuinya nanti, setelah ditanya kenapa dan untuk apa menulis.
Itu pun tidak ada! Karena kalaupun tidak ditanya kenapa dan untuk apa, menulis yang sekarang ini tetap terjadi dan tetap bermakna. Merespon saat ini adalah pemaknaan sesungguhnya, sedangkan pemaknaan yang distrukturkan oleh pertanyaan itu tidak lebih tidak kurang adalah sebuah pemakluman. Jadi, apakah pemaknaan adalah pemakluman?
*lalu baru sadar sudah lima lagu mulai dari dream on aerosmith sampe back in black acdc, kopinya tidak terseruput sama sekali karena lupa nyeduh
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
