AES472 Ingin Maju Enggan Ke Depan

Nebeng. Atau yang lebih payah lagi, ngomen. Dua dari banyak indikator mental model ingin maju tetapi enggan ke depan. Seperti meminta diajak bertualang, pas di perjalanan penuh dengan keluhan. Ketidak sesuaian keinginan dengan kenyataan.
Begini, gak mau. Begitu, gak mau. Jadi maunya apa, gak tau. Ingin sampai tujuan, enggan melalui perjalanan. Ingin mendapat pengakuan, enggan tampil di depan. Ingin berkembang, enggan berubah. Ah, sungguh kedangkalan yang dalam.
Makanya tidak heran, kursi yang penuh selalu di belakang. Makanya tidak aneh, sudut ruangan berjejal-jejalan. Di tengah ruang masih lega, hanya ada dua orang yang sungguh bertualang dan berjuang. Sembilan puluh delapan lainnya, tiktokan.
Terlalu muram kah tulisan ini? Kalau iya, berarti pandangan kita terhimpit yang sembilah puluh delapan itu. Geser sedikit saja, angkat pantat dari kursi di meja belakang dan masuk lah ke dalam ruangan. Lihat yang dua sedang berkembang ini.
Semudah itu mengubah suasana jadi terang. Dengan melihat saya dan kamu sebagai dua orang yang di tengah ruang dan di depan perjalanan. Yang berjejalan di sudut dan bertumpuk di belakang, adalah yang perlu kita paparkan pancaran diri ini.
Yang muram mengartikan yang terang. Panta Rhei!
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 514 Apa Yang Perlu Saya Lakukan?
Adalah pertanyaan yang lagi sering saya dengarkan berseliweran di udara, ini dapat jadi salah satu indikator ketakutan . Takut salah, misalnya. Bahkan dengan kemampuan sebesar apapun dan keterampilan semahir apapun, akan batal oleh ketakutan berbuat salah ini. Mirisnya, salah yang terjadi pun bisa…

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

