AES488 Sampai Kapan? (1/2)

Kalau manusia adalah waktu, pertanyaan sampai kapan? seakan hendak mengingatkan soal kemanusiaannya. Seperti seorang yang bergagasan liar dan memilih cara yang berbeda selama bertahun-tahun, banyak orang yang bertanya sampai kapan? Atau seperti seorang yang tidak mampu mencipta tetapi selalu melawan ciptaan bahkan gagasan akan ciptaan, banyak juga yang bertanya sampai kapan?
Jadi teringat di sekitar dua ribu sepuluh, saya membuat pernyataan akan mengurangi sebisa mungkin penggunaan kata jangan, harusnya, dan tapi. Hampir semua orang yang mengerti saya bertanya sampai kapan? Sedangkan yang tidak mengerti akan bilang aneh atau berusaha mengonfrontasi pernyataan saya. Respons yang kedua, jelas saya abaikan. Respons yang pertama sepertinya sudah bisa saya jawab.
Sampai dengan dua ribu dua puluh empat yang lalu, jawaban saya. Yaa.. walaupun tidak sepenuhnya betul, karena setelah empat belas tahun pun yang mulai saya sering pergunakan tanpa kekangan adalah kata tapi. Inipun saya sesuaikan, dengan menggunakan tetapi. Ini hanya soal rasa bahasa dan resiprokasi rasa saja. Ingat kan rasanya, setelah kita mendengarkan sesuatu ada kata tambahan tapi. Atau di saat kita mau mulai berkembang, disambut kata jangan. Paling payah adalah setelah selesai belajar, dikomentari harusnya.
Pemotongan-pemotongan pembentuk-bentukan (pruning) inilah yang hendak saya minimalkan sejak awal memutuskan mengurangi penggunaan tiga kata tersebut, karena seperti dibonsai/membonsai rasanya. Sekarang kata tetapi sudah cukup saya kuasai penggunaannya untuk mendeduksi tanpa mereduksi, makanya sudah sering muncul lagi dalam tulisan. Secara lisan, tetap diminimalkan sih. Yang mendasari sikap dan tindakan ini adalah kutipan be the change you want to see in the world. Hmmm... Sampai kapan?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
