AES508 Ketidak Mengertian Itu Terlalu Banyak Pengetahuan

Seorang pemanah telah melepaskan tahanan pada busurnya, anak panah melesat menuju sasaran yang diinginkan. Meleset! Lalu marah dan menuntut, marah kepada angin dan menuntut pepohonan. Katanya angin tidak boleh berembus saat anak panah itu melaju dan pohon (kese)harusnya(an) memberikan jalur bebas hambatan bagi kelajuan anak panah itu.
Meletakkan busur dan sisa anak panahnya ke tanah, pemanah itu menggerutu dengan keras kepada langit. Tuntutannya adalah intensi pemanah yang kuat dan fokus yang jelas (kese)harusnya(an) didukung oleh spirit langit, seperti intensi dan fokus dirinya yang sudah kuat dan jelas. Keinginannya adalah teknik yang benar yaitu menarik panah dari angkatan tangan yang diturunkan dengan napas tenang, walaupun tidak diterapkannya (kese)harusnya(an) tetap dibenarkan bumi karena ia sudah memiliki pengetahuannya.
Ketidak mengertian itu terlalu banyak pengetahuan, memang. Sehingga langit dituntut oleh keseharusnyaan dan bumi ditekuk oleh keseharusnyaan, keseharusnyaan-nya yang seharusnya untuknya saja bukan untuk langit dan bumi. Keseharusnyaan-nya itulah yang perlu menuntut dirinya sendiri menerapkan pengetahuan itu oleh tangannya sendiri, bukannya menekuk tangan milik yang lain untuk mengimplementasikan imajinya yang niscaya akan selalu salah jadinya.
Pemanah ini pun kembali ke dalam gubuk miliknya di dalam goa yang bukan miliknya, membuka-buka catatan lama milik orang-orang tua pendahulunya. Berusaha membenar-benarkan dirinya kalau ia ditakdirkan menjadi seorang pemanah, ia malah melihat selipan catatan di antara halaman. Isinya, "Semua yang tertulis di sini adalah yang tidak sanggup kami penuhi hingga tua, sehingga kami turunkan kepada pemuda yang baru tumbuh ini menjadi tujuan hidupnya. Kami boleh mati tetapi ambisi ini harus dipenuhi, walaupun tidak ada kami yang melihatnya terjadi; definisi berhasil ini harus terus dipenuhi." #korbandefinisi.
Seketika terbuka lah mata dan telinganya, ephphata! Ia segera membakar gubuk miliknya di dalam goa yang bukan miliknya itu, kemudian keluar dari goa itu dan melihat bahwa selama ini yang dilihatnya adalah bayangan. Seperti alegori goa yang diungkapkan oleh Plato. Berjalan lah dirinya ke tengah realita dan berniat untuk bertempur sebagai seorang pemahat yang lebih disukainya daripada pemanah. Seperti kata Sun Tzu "Pilihlah pertempuran yang paling layak, tidak semua pertempuran pantas diladeni."
Sampai pada suatu waktu, ia mampu memahat bulan karena akhirnya ia sudah mampu memandang bulan. Sebelumnya, ia ingin memanah bulan karena ia tidak pernah sekalipun melihat bulan. "When the sage pointing at the moon, all the monkey see is the finger." Memang, ketidak mengertian itu terlalu banyak pengetahuan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
