AES510 Protokol Hanya Istilahnya Saja

Yang menggelitik saya adalah bagian tertulis kalau ego itu menuntut dan terburu-buru, sedangkan hati itu sunyi dan tenang. Soalnya, seringkali terjadi situasi "Menuntut dalam diam." Semacam diam-diam menuntut atau bentuk tuntutannya adalah dengan diam.
Lalu dengan penasaran, saya membalikkan urutan "protokol" ini. Mulai dari menjaga niat, yang dijaga adalah niat asli agar tidak bergeser. Karena seringkali terjadi dari niat asli yang ingin menyampaikan sesuatu yang baik, karena direspon orang lain dengan opini yang tidak sesuai selera pribadi berubah jadi niat mempertahankan gagasan sendiri. Dengan cara melawan dan beradu tanggapan, bisa juga dengan cara diam dan membiarkan karena semua akan reda dan jatuh jua seperti dahan kering terabaikan.
Lanjut ke menghadapi dengan jujur, bahwa niat telah bergeser dari ketulusan hati jadi keteguhan ego. Ya, gak apa-apa. Sudah terjadi kan. Hanya, daripada sibuk mengoreksi alias mengorek-ngorek sana-sini demi untuk bertahan di satu tempat yang familiar. Stagnan maju tidak, mundur pun tidak. Yang inginnya diam tenang batin malah jadi diam yang ngebatin. Ujung-ujungnya terjadi kemunduran, padahal niat awalnya adalah kemajuan. Lebih baik, kita fokus kepada langkah selanjutnya yaitu refleksi.
Lah, refleksi kan semacam mundur. Iya, makanya diperlukan untuk melesat maju. Seperti melontarkan biji dengan ketapel, tarik mundur dulu baru lepaskan dan ikhlaskan maju. Sembari biji itu maju melesat terbang ke sasaran yang diharapkan, kita bisa berhenti sejenak dalam diam batin untuk menerima proses maju itu. Karena dengan niat baik, sasaran akan terjangkau. Baik jalurnya itu sesuai selera kita, baik alurnya tidak sesuai selera kita, tetap baik untuk kita pada setiap momen (sebetulnya).
Eits waspada lah, refleksi bukan sembarang refleksi lho. Refleksi bukan prememori, bukan juga merepetisi ekspektasi, apalagi menggebu-gebu mengoreksi. Refleksi itu mengolah pengalaman sendiri, dengan melihat dari mata orang lain. Nah lho, susah kan. Sesusah dorongan untuk menimpali dan memotong perkataan orang lain yang lagi ngomong, kemudian menggunakan satu kata yang tidak sesuai selera kita. Gak sabar untuk menunggu ia selesai bicara, suara ego kita langsung menyambar. Duarrr! Bubar...
Komentar (3)
Kerenn. Sepakat ini... Kita perlu belajar paham juga soal Ego... Karena ini juga sangat berpengaruh sama proses kita berkesadaran... Sejauh saya pahami, Ego itu 'cara kerjanya' bertentangan dengan Jiwa. Nah ini yang seru kalau kita pahami dulu - secara konseptual tentunya.
BTW ini AES kak Leo yang ke 510 ya. Hehe... Nomornya belum ditambahkan kak
"Refleksi itu mengolah pengalaman sendiri, dengan melihat dari mata orang lain." Menarik sekali bagian ini. Sedang bermain di ruang ini. Sejauh ini, meski belum jauh, mungkin agar si ego tidak menyeret pada ketergesa-gesaan dan menuntut ialah kerelaan untuk "dikuliti" dari kacamata orang lain. Yang berarti harus "mendengar" dan "menerima" dulu kacamata itu, untuk bisa dipakai meluruhkan si ego tadi. hmm semoga belum terlalu jauh, ya. Hahaha
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…

