AES530 Merasakan Resonansi Banua Tada

Berguru pada Kehidupan, Literasi Diri, Olah Rasa. Frasa-frasa ini sejak beberapa waktu terakhir ini kami jadikan olahan bersama di Rumah Belajar Semi Palar. Belum lagi hal-hal terkait kesadaran yang dijabarkan lewat Sadar Diri, Sadar Lingkungan dan Sadar Tujuan.
Ada beberapa catatan penting dari paragraf di atas, berangkat dari apa yang disampaikan John Dewey: Education is Life Itself. Di awal-awal perjalanan Semi Palar, kami belum paham betul apa yang dimaksudkan oleh John Dewey, tapi lewat forum kemarin Resonansi Rasa Pulau Dewata, kita bisa lihat dan rasakan langsung bahwa Semi Palar sepertinya sudah sampai ke sana, menerapkan dan menghayati betul apa yang diungkapkan oleh John Dewey. Mudah-mudahan betul demikian.
Penjelajahan 4 individu dari Semi Palar, kakak dan teman-teman Banua Tada ke Bali selama 6 minggu menjabarkan dengan gamblang apa yang disebut sebagai Berguru pada Kehidupan. Bagi Semi Palar penjelajahan ini adalah juga perjalanan terjauh dengan durasi terpanjang. Lebih dari itu, bisa jadi ini perjalanan 'terdalam' ke dalam diri para pejalannya, Kiran, Saski, Jose dan kak Gina. Menarik pertanyaan Abigail yang dilontarkan, tentang pengalaman spiritual apa yang sempat dialami selama penjelajahan 6 minggu tersebut. Saya tidak akan menulis tentang itu, silakan ikuti sendiri rekaman kegiatan kemarin yang tautannya ada di bawah ini.
Sebagai destinasi, Bali sangat erat persepsinya sebagai tempat wisata. Tapi perjalanan teman² Banua Tada ini bukan untuk berwisata. Tempat dan komunitas yang dikunjungi, apa yang dikerjakan di sana, orang yang ditemui, pengalaman yang mereka dapatkan bagi saya sangat luar biasa - inilah yg disebut Berguru pada Kehidupan. Sebelumnya saya sempat ragu apakah Bali bisa menyajikan setting belajar yang pas untuk penjelajahan teman-teman di KPB. Belum lagi soal biaya dan jarak yang cukup jauh. Tapi keraguan saya terjawab kontan oleh cerita yang dibagikan di pertemuan tadi. Bali memang tempat yang spiritual walaupun sekarang hal ini sudah sangat tergeser dengan citra Bali sebagai sekedar destinasi wisata. Pemaknaan frasa Pulau Dewata sendiri sudah semakin terkikis dan berganti hanya seakan sebagai jargon sebuah destinasi wisata dan tempat berlibur. Keraguan saya juga gambaran dari bergesernya persepsi kita semua akan pulau Bali.
Saya mensyukuri keteguhan teman-teman Banua Tada untuk melaksanakan penjelajahannya ke Bali - termasuk mengumpulkan dana lewat berbagai ikhtiar sampai penjelajahan ini bisa terwujud. Apresiasi yang sebesar-besarnya untuk teman-teman Banua Tada dan kak Gina yang telah mengawal penjelajahan ini sampai kita bisa dengarkan langsung kisah-kisahnya lewat talkshow, photobook dan video dokumenter yang mereka sudah siapkan. Ini pencapaian besar buat kalian, dan KPB. Saya mewakili KPB dan Semi Palar sungguh berterima kasih - karena bagi Semi Palar ini juga merupakan sebuah lompatan pembelajaran - dan di dalamnya, teman-teman telah membantu membuktikan bahwa apa yang dituliskan di kalimat pertama tulisan ini bukan sekedar frasa mati atau jargon-jargon tanpa makna.
Esai ini saya tuliskan untuk memberikan catatan terhadap proses yang sudah terlaksana. Untungnya kemarin saya tidak diberikan ruang bertanya - atau menanggapi. Kalau demikian, saya akan ngacapruk mengenai hal-hal di atas ini, karena begitu banyak yang ingin saya ungkapkan selama berlangsungnya forum kemarin. Karena ini juga Atomic Essay - saya juga berusaha untuk menuliskan hanya hal-hal esensi dan mudah-mudahan sudah saya tuliskan di atas ini. Sekali lagi terima kasih teman-teman Banua Tada : @jose, @saskia-electra dan @kirana-kasih bersama kak @reginamirdan khususnya juga seluruh tim KPB dan keluarga besar Semi Palar yang telah mendukung. Oh iya, terima kasih buat kak @matheusaribowo yang asik banget membawakan forum kemarin dan memantik berbagai interaksi yang terjadi. Hatur nuhun sadayana.
[jrEmbed module="jrYouTube" id="165"]
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES95 3. Setiap orang yang ditemui adalah narasumber, setiap kata yang mereka ucapkan adalah informasi, dan setiap tempat bisa di jelajahi
Di essay AES93 tentang penjelajahan aku sempat menyebutkan bahwa, hal paling penting dari penjelajahan adalah menghidupkan jiwa penjelajah pada setiap pribadi yang melakukannya, untuk menghidupkan jiwa penjelajah kami, satu mantra yang selalu kami ulang setiap malam ialah “Setiap orang yang ditemui…

AES94 2. Tutur Kata Baik
Hal kedua setelah rutin ialah betutur kata baik. Berbeda dengan rutin yang coba kita terapkan selama di Bali, tutur kata baik ini sudah kami terapkan sejak awal perencanaan. Aku secara khusus menyarankan teman-teman Banua Tada untuk melatih tutur katanya, dimana pun, saat bersama siapa pun. Saat he…

AES93 1. Rutin
Hari ini, 30 mei 2023 kami K11 Banua Tada telah merampungkan serangkaian kegiatan penjelajahan, dari mulai perencanaan hingga proses laporan akhir yakni gelaran karya. Sudah empat hari kami menggelar kegiatan yang bertajuk “Resonansi Rasa Pulau Dewata” yang dibuka dengan talkshow dan peluncuran buk…

