AtomicEssay

AES611 Bubur Valentine

Andy Sutiosopenulis arsip2

Saya pikir semua warga Semi Palar kenal Bubur Valentine. Mudah-mudahan juga sudah pernah mencicipi bubur ayamnya yang enak itu. Minggu lalu saya berangkat ke Smipa menggunakan ojek online. Karena belum sarapan, mendadak muncul ide untuk berhenti dulu di bubur Valentine dan mengisi logistik pagi dulu. Akhirnya saya bilang sama driver Ojeknya untuk berhenti saja di bawah. Sayapun melangkah menuju ke warung bubur Valentine. 

Di depan warung saya melihat pak Supar sedang mempersiapkan dagangannya hari itu. Melihat saya datang, pak Supar tersenyum lebar dan menyapa saya, "Eeh, pak Andy... Selamat Taun Baru!." Sayapun bersalaman mengambil tempat duduk di meja warung dan mulai mengobrol sambil pak Supar menyiapkan pesanan saya. Memang sudah lama sekali saya tidak ngobrol dengan beliau. 

Ada yang sedikit berbeda, karena hari ini hanya pak Supar yang berjualan. Dia bilang, "Muhun pa Andy, ayeuna mah icalana nyalira". Sekarang dia hanya berjualan sendiri. Beberapa waktu lalu, putrinya meninggal dunia karena sakit. Istrinya yang juga biasa membantunya sepertinya kurang sehat juga. Beliau bilang, "Pada sarusah diajak olah raga!" Sejauh saya kenal pak Supar beliau rajin berolahraga, termasuk bersepeda. Hobi yang sama dengan saya. Beliau selalu melambai dengan semangat saat melihat saya gowes ke atau sepulang dari Smipa. 

Obrolan bergeser ke asal mula dia berjualan. Ternyata warung ini dimodali oleh salah satu warga jalan Sukamulya (yang sekarang sudah pindah ke Jakarta). Beliau mengenal pak Supar sebagai seorang yang jujur. Kalau saya tidak salah, 25 tahun yang lalu pak Supar diberi modal berjualan oleh beliau. Gerobak yang jadi tempat pak Supar menyiapkan pesanan untuk para pembeli adalah gerobak yang dibelinya dari modal usaha itu. Beliau cerita bapak itu orang yang sangat baik hati. Di suatu titik, pak Supar bilang pernah ditawari motor juga. Tapi karena satu dan lain alasan pak Supar menolak pembelian bapak itu. 

Tapi begitulah sekilas cerita tentang pak Supar dan bubur Valentine. Di tahun awal Semi Palar, warung bubur ini selalu jadi patokan saat ada yang mau pergi ke Semi Palar. Cari aja pertigaan Sukamulya dan kalau sudah ketemu bubur Valentine, sudah dekat, tinggal mengikuti jalan menanjak dan Semi Palar akan ketemu lokasinya. Saya lupa bagaimana persis ceritanya, malah sempat muncul istilah khas di obrolan kami para kakak yaitu Smilentine. Kombinasi antara Smipa dan Bubur Valentine.

Demikian tulisan saya pagi ini. Mohon maaf fotonya saya ambil diam-diam sewaktu pak Supar bercerita. Waktu saya liat hasilnya, ternyata mata pak Supar lagi merem. Punten ya pak. Mudah-mudahan berkesempatan untuk saya perbaiki. Salam.  

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES836 Titipan dari Herry (alm)

Sejak minggu malam, banyak dari kita teralihkan perhatiannya ke dalam peristiwa kepergian sahabat kita Herry, suami dari Ria, ayah dari Evan dan Davin yang sekian belas tahun jadi bagian dari keluarga besar Semi Palar dan berbagai dinamika interaksi di dalamnya. @joefelus, saya juga sempat menulisk…

Andy Sutioso10
AtomicEssay

AES791 Bendera, Upacara dan Spirit Ke-Indonesia-an

Setiap tanggal 17 Rumah Belajar Semi Palar menyelenggarakan Upacara Bendera. Ritual penghormatan Sang Merah Putih dan pengkhidmatan terhadap kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang udaranya bisa kita hirup dalam-dalam setiap harinya saat ini. Pagi harinya, saya menerima sebuah video pendek dari mas…

Andy Sutioso00
AtomicEssay

AES697 Mengenal Koji Yakusho

Ini tulisan ke empat saya yang terinspirasi dari filem Perfect Days. Sejujurnya filem ini sekarang sedang menjadi sumber belajar saya yang boleh dibilang paling penting. Kemarin sore setelah mengajak kakak-kakak Smipa menonton ulasan filem ini dari kanal youtube Tom's Thoughts yang menyoroti filem…

Andy Sutioso10