AtomicEssay

AES7 Cerita Soal Cerita

Dhipie Kuronpenulis arsip2

Belum genap 2 minggu saya meninggalkan pulau itu, mendadak Bali kembali, mengejar beberapa orang yang hanya bisa ditemui disana di sela liburannya. Saya pun menyela pekerjaan untuk mengisi kembali energi saya yang banyak terkuras, tak hanya urusan kerja. Tetapi urusan-urusan anak yang menjadi tanggung jawab utama saya. Ah tak pernah tuntas urusan satu ini.

Kawan saya berbaik hati menjemput saya dan melegakan waktunya mengajak saya melihat keindahan alam pulau yang masih jadi andalan pemasukan devisa dari sektor pariwisata. Nampak benar kini Bali bergerak, orang-orang asing mulai memadati jalan-jalan. Tetapi beach club dengan pemandangan memukau tidak mampu mengisi diri saya. Mungkin setiap orang memang dicipta dengan cara bahagianya masing-masing.

Selain anak, dan buku nampaknya memberi sedikit kemampuan pada orang lain adalah hal yang membuat saya merasa “penuh” , “tergenapi”, entah kata yang bisa saya sampaikan untuk menyampaikan kebahagiaan saya saat bisa berbagi.

Kembali saya mengunjungi tempat yang dikenalkan sahabat saya. Ia memutuskan meninggalkan Jakarta, dan bekerja paruh waktu di Bali, sembari mengisi hari dengan menjadi relawan di sana-sini. Bamboo School, sekolah berdinding bambu berdiri di antara pemukiman penduduk kelas bawah, di balik club, café, dan pertokoan mewah kawasan Kuta. Bukan kali pertama, tapi setiap saya datang ke Bali untuk apapun urusannya, tempat ini memanggil saya berulang-ulang. Tanpa berteriak, panggilan itu terus mengiang, mencari jawaban, yang adalah kedatangan.

Mereka bukan Lembaga Pendidikan! Mereka adalah sekelompok orang dengan kepedulian pada anak-anak yang datang dari pelosok desa-desa di Pulau Dewata. Sama seperti orang tuanya mereka sibuk menjaja barang atau jasa. Entah menjadi pedagang asong atau ada kalanya menawarkan jasa pijat. Tidak ada guru tetap yang datang, hanya relawan yang berganti datang. Namun wajah-wajah mereka tak kalah sumingrah dibanding anak-anak Semi Palar, haus untuk berkembang. Renyuh saya melihatnya.  Wajah anak yang memiliki berbagai ragam kelompok usia berubah menjadi sembab menahan kecewa, karena seorang pengelola berkata sekolah itu libur, karena ada perayaan di Banjar. Luar biasa energi ini mengisi ulang tampungan tenaga dalam diri saya.

Jumlah isi kelas bergantung pada ramai tidaknya wisatawan. Jika ramai maka kelas sepi, mereka harus bekerja. Tidak ada orang tua yang mengantar anaknya yang ada kadang beberapa dari mereka dimarahi kalau terlalu lama di sekolah, karena tak menghasilkan uang . Materi yang disampaikan tak ada perencanaan, tergantung kemampuan relawan yang berkesempatan. Ketika saya datang seorang relawan dari mancanegara sedang mengajar matematika, perkalian. Dengan tabel. Anak-anak dengan semangat menyalin di buku tulis yang satu-satunya mereka punya. Tapi nampaknya beberapa tetap tak paham, walaupun materi disampaikan dalam Bahasa Indonesia yang sangat fasih dan lancar.

Lanjutlah giliran saya mengajar. Saya tak punya ide, saya lanjutkan saja yang sudah dilakukan relawan sebelumnya. Perkalian. Saya hanya mengingat bagaimana anak saya belajar perkalian dan bagaimana soal-soal yang dibuat kakak-kakak selalu mengkaitkan dengan kehidupan nyata. Jadilah saya mendongeng sambal dongengnya jadi soal cerita, dan mengajak mereka untuk menjawab soal itu dengan menggunakan tabel perkalian yang telah dibuatnya. Wow! Di luar dugaan mereka cepat menjawabnya. Apalagi jika dikaitkan dengan urusan keseharian mereka seperti: “ambil gelang dari toko sepuluh dan dijual dengan turis dengan harga 2 dolar”, saya segera saya diserbu dengan jawaban.
Ah…. Terimakasih kakak-kakak Semi Palar sudah membantu saya!

Itu cerita saya tentang soal cerita! Pembuktian bahwa penerapan dalam dunia nyata, bukan hanya rangkaian penjelasan teori sangatlah mudah dipahami. Pelajaran saya dapat adalah jangan sibuk berteori tapi makinlah berbuat nyata.

Bagaimana menurutmu teman?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES9 Tetamu

Bersyukur ternyata salah satu cara murah untuk mendapatkan kebahagiaan, mendatangkan tenaga yang tak terkira, dibandingkan sumpah serapah keluhan yang dapat dipastikan menguras semua kebaikan. Tamu memang tak dipungkiri hal yang sering menjadi merepotkan. Jika dulu mama selalu menyiapkan persediaan…

Dhipie Kuron30
AtomicEssay

AES8 Flora and Son: Jejaring dan Menjaring

Dari satu kenal yang lain, dari satu ilmu belajar hal yang lain. Terus menerus benang itu tak pernah putus kait mengkait sampai mungkin kita lupa dimana ujungnya, dan berjalan seperti tak berpangkal merambah ke hal-hal yang tak pernah kita duga. Setelah menerima hasil tes sidik jari, konsultasi psi…

Dhipie Kuron20
AtomicEssay

AES7 Menulis

Konsep bahwa segala sesuatu terjadi atas suatu alasan menunjukkan keterkaitan peristiwa dalam hidup dengan tujuan atau makna, meskipun pandangan tiap individu terhadap ide ini dapat bervariasi. Tetapi saya mempercayai adanya benang yang tak terlihat yang saling terhubung pada tiap kehidupan di muka…

Dhipie Kuron22