AtomicEssay

AES83 merawat hati

innocentiainepenulis arsip2

Sedari kecil aku, dan mungkin banyak dari kita diajar untuk memelihara kebersihan tubuh. Mandi, sikat gigi, cuci tangan, dll. Saat jatuh atau terluka, kita belajar merawat, mengobati luka supaya tidak infeksi. Semua yang melihat ikut khawatir, membantu mengobati, paling tidak memberi saran obat yang dapat digunakan. Namun jarang sekali kita diajak memelihara kebersihan emosi, merawat hati. Mungkin karena tidak terlihat jelas, tidak terukur, tidak ada prosedur penanganan yang pasti, saat mengalami kecewa, marah, sedih, takut dll, cenderung didiamkan. “Sudahlaah..” Sungguh berbeda dengan saat tubuh kita sakit atau terluka. Meski tak dapat dicuci atau disikat setiap hari seperti halnya gigi atau tubuh, bukankah emosi juga bagian dari diri, juga perlu dirawat.

Emosi atas satu kejadian memang dapat memudar seiring waktu, mungkin sekadar terlupakan tapi bukan hilang dengan sendirinya. Yang terbayang adalah sebuah ruang yang setiap hari digunakan, dilewati, tapi tak pernah dibersihkan. Tumpukan benda, yang didiamkan dengan harapan akan memudar dengan sendirinya. Nyatanya tetap ada di situ, mengokupasi ruang, membuat sesak, tertutupi debu dan kotoran. Bukan tak mungkin hal ini terefleksi ke keseluruhan diri. Tapi bagaimana pula bagaimana menjaga kebersihan atau kesehatan sebuah ruang yang tak kasat mata? Seorang teman yang mulai pulih dari tumpukan kesulitan karena trauma masa kecil, bercerita bahwa ia mengalami periode di mana banyak orang di sekitarnya - bahkan orang terdekatnya mengatakan bahwa meski tidak kemana-mana, ia seperti tidak ada, tidak dikenali. Antara diri yang jadi tidak terlihat, atau orang kesulitan melihat dirinya karena berada di antara tumpukan benda dari masa lalu. Baru setelah mulai membenahi ruang tersebut, ibarat melakukan declutter, mengeluarkan atau membersihkan dengan memberi perhatian dan menerima keberadaan, orang-orang di sekitarnya .

Ketika sudah menjaga ruang tersebut, bukan berarti akan selalu merasa senang atau terbebas dari emosi negatif. Namun lebih paham untuk tidak mengabaikan perasaan ketika terluka, juga memiliki kemampuan untuk menghadapi ragam dan perubahan emosi di keseharian.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES179 Sabar..

Ketika agenda dan olahan mulai memadat, ada kecenderungan dalam diriku untuk semakin ketat mengaturkan segala sesuatu. Seperti terkondisi untuk terus berstrategi agar seiring waktu berjalan semua agenda dan kegiatan tetap berjalan baik sesuai jadwal dan sasaran. Kerap terjadi, bahkan hampir selalu,…

innocentiaine32
AtomicEssay

AES158 Kembali Menulis

Waktu itu, sudah cukup lama sejak rutin menulis AES-ku terhenti. Dengan alasan, tergantikan oleh keasikan baru menggambar mandala. Aku sedang berdiskusi dengan rekan SPP tentang persiapan lingkar belajar untuk kakak jenjang kecil, dengan topik emosi. Khususnya dalam hal pengelolaan emosi di kelas,…

innocentiaine10
AtomicEssay

139 bukan ilham

Waktu masih duduk di bangku sekolah, aku pernah mendengar seseorang mengatakan “You always have a choice. You can choose to be happy, or you can choose to be grumpy. But it is always better, it is always smarter, it is always wiser to choose to be happy!!” Masih aku ingat betul, karena membuka pema…

innocentiaine30