Artikel Eksposisi: Cara UMKM Jabar Bertahan di Masa Pandemi
Cara UMKM Jabar Bertahan di Masa Pandemi
Masuknya virus Covid-19 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China sangat merugikan kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Jika kita bandingkan kasus Covid-19 per hari pada tahun lalu dan sekarang-sekarang, kita sudah bisa bilang bahwa penyebaran virus ini di Indonesia setidaknya sudah mereda. Mulai dari kasus per hari mencapai puluhan ribu, sekarang sudah mulai mengecil menjadi ratusan saja. Meski kini kondisi sudah mulai mereda, tak dapat dipungkiri bahwa Covid-19 merupakan virus yang sangat berbahaya dan mengancam nyawa penderitanya. Dengan begitu, siaga dan melindungi satu sama lain merupakan hal yang benar dilakukan dalam saat-saat seperti ini.
Dengan menyebarnya virus ini, orang-orang harus berpikir lebih kreatif agar bisa bertahan di era pandemi. Sebenarnya semua aspek dalam kehidupan kita terganggu karena menyebarnya virus ini, dan pada dasarnya kita semua dirugikan. Tapi mungkin, salah satu sektor yang sangat dirugikan adalah para pengusaha dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang harus beradaptasi agar usaha mereka tidak tenggelam. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia selama pandemi sangat merugikan UMKM yang mengandalkan pelanggan; beberapa dari pelaku usaha pun kehilangan pelanggan mereka. Ditambah lagi naiknya harga bahan baku membuat pelaku UMKM sulit untuk mengakses barang dan menghambat produksi dan distribusi barang.
Melansir data dari opendata.jabar terdapat sekitar 5.751.043 UMKM yang tersebar di seluruh di Jawa Barat. Data ini menunjukan bahwa lebih dari 5 juta pelaku UMKM sedang ataupun sudah melalui badai krisis ekonomi yang disebabkan peningkatan daya beli masyarakat yang krusial dalam membangkitkan UMKM. Menurut Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jabar, Kusmana Hartadji, pendapatan pelaku UMKM menurun rata-rata sebanyak 80 persen di masa pandemi Covid-19. Hal ini tentu merupakan jumlah yang sangat besar dan sangat merugikan bagi pelaku UMKM. Berdasarkan data yang ditunjukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, menunjukan bahwa 14.991 pelaku ekonomi kreatif hingga 26,67 persen pengusaha kuliner merumahkan pegawainya.
Untuk menguji data yang saya dapatkan tentang kondisi UMKM di Jawa Barat, saya pun mewawancarai Ibu Mia Lakhsmi Handayani, salah satu owner dari sebuah pusat pelatihan kopi dan kafe di Bandung yang bernama 5758 Coffee Lab. Ibu Mia mengatakan bahwa sebenarnya selama pandemi justru pendapatan dari kafe lebih meningkat, faktornya adalah karena perubahan pasar. Dengan adanya PPKM, pelanggan-pelanggan yang rumahnya jauh jadi tidak bisa ke kafe karena jalannya ditutup, sementara orang-orang yang rumahnya dekat dengan kafe jadi lebih sering nongkrong di kafe. Pelanggan-pelanggan yang rumahnya dekat bisa datang ke kafe setiap hari, dan dalam sehari datangnya pun bisa lebih dari sekali. Namun demikian, pendapatan dari kelas menurun drastis karena adanya peraturan pemerintah dalam pembatasan mobilisasi, sehingga jumlah orang-orang yang mengikuti kelas pun berkurang 50 persen dari biasanya. Padahal, pemasukan utama 5758 Coffee Lab adalah dari kelas, lantaran pendapatan dari kafe tidak mencapai 10 persen dari total pemasukan. Kerugian yang 5758 Coffee Lab alami juga belum berhenti di sini, target penghasilan yang mereka set di tahun ini sebanyak 4 miliar pun masih belum mencapai angka 1 miliar di awal November ini. Dana cadangan selama 3-4 bulan yang mereka punya juga terpakai hanya untuk menggaji karyawan. Proyek baru 5758, yakni Bali Coffee Lab yang menargetkan orang-orang dari Indonesia Timur dan luar negeri untuk menjadi peserta kelas di sana, terpaksa “diistirahatkan” dikarenakan adanya pandemi dan dengan Bali yang masih relatif sepi. Padahal, Bali Coffee Lab harusnya sudah bisa beroperasi di tahun ini.
Menyikapi kondisi ini, para pelaku UMKM pun harus lebih kreatif dalam mempertahankan usahanya. Ibu Mia mengatakan bahwa yang 5758 Coffee Lab lakukan untuk bisa bertahan adalah dengan memasukan modal baru agar kerugian yang mereka alami masih bisa tertutupi. Hal ini dikarenakan 5758 Coffee Lab yang masih ingin menggaji karyawan mereka. Ibu Mia berpendapat bahwa karyawan merupakan sebuah aset penting yang mereka punya. Jika memecat karyawan, owner sendiri yang akan rugi karena barista di 5758 Coffee Lab mempunyai kemampuan lebih tinggi jika dibandingkan dengan barista-barista lain. Hal lain yang 5758 Coffee Lab lakukan adalah dengan mengadakan kelas terbatas dengan kapasitas 50 persen. Kelas-kelasnya juga menetapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti memperbesar jarak antar siswa, memberi setiap siswa alatnya sendiri agar tidak berbagi dengan yang lain, dan menaruh air purifier di setiap ruangan.
Dikarenakan kerugian yang dirasakan oleh para pelaku UMKM mencapai 80 persen, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengusahakan 5 upaya yang akan dilakukan untuk menyelamatkan pelaku UMKM di Jawa Barat. Upaya-upaya tersebut berupa: memudahkan hadirnya bahan baku yang sulit didapatkan saat pandemi, memudahkan urusan permodalan, melancarkan produksi dan distribusi yang sempat terhambat saat pandemi, menstimulasikan untuk menaikan harga beli, dan membantu menaikan omzet penjualan. Pemerintah Daerah Jawa Barat juga membagikan bantuan sosial (bansos) untuk para pelaku-pelaku UMKM di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat meminta agar para pelaku UMKM di Jawa Barat bisa beradaptasi oleh adanya era disrupsi, dengan menggunakan sistem digital dalam usahanya. Ridwan Kamil pun berpesan untuk para pelaku UMKM di Jawa Barat agar harus selalu siap dan memiliki ketangguhan terhadap interupsi yang sedang terjadi. Kang Emil juga menambahkan bahwa, pasca Covid-19 ini menunjukan bahwa, siapa yang dekat dengan teknologi hidupnya akan lebih mudah sementara yang jauh dari teknologi akan sulit bertahan. Meskipun begitu, ternyata 5758 Coffee Lab belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintahan. Hal ini sepertinya dikarenakan 5758 Coffee Lab yang belum mendaftar untuk mendapatkan bansos.
Situasi yang sulit membuat para pelaku UMKM di Jabar mulai masuk pasar online atau marketplace. Dilansir dari Bisnis.com, sebelum pandemi Covid-19 hanya 20 persen atau 602 pelaku UMKM Jabar yang masuk di marketplace. Setelah didampingi dan dilatih, kini sudah ada 1.623 UMKM masuk marketplace atau naik 34 persen. Sebenarnya jika dilihat dari akun-akun jualan serta akun usaha yang ada di sosial media, terbukti bahwa UMKM banyak dibantu oleh adanya sosial media. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Ibu Mia, ia mengatakan bahwa sosial media merupakan peran yang besar dalam usahanya. Ibu Mia sendiri juga merasa bahwa pada dasarnya 5758 Coffee Lab berjualan di sosial media dengan cara mem-posting penjelasan tentang kelas yang akan mereka lakukan melalui Instagram dan admin mereka yang bisa dihubungi via Whatsapp.
Untuk membantu mendorong pelaku UMKM Jawa Barat berjualan di masa pandemi, Gubernur Jawa Barat juga resmi meluncurkan Borongdong.id, sebuah marketplace bagi para para pelaku UMKM di Jawa Barat. Website yang terbentuk dari usaha Aparatur Sipil Negara dalam mendorong pemulihan ekonomi. Selain menjadi bagian dari program ICALAN (Inovasi Cara Penjualan) yang digagas oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat, Borongdong.id juga sejalan dengan program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang diprakarsai oleh pemerintah pusat. Borongdong.id bertujuan untuk mengakselerasi transformasi digital UMKM, memperkuat kelangsungan usaha, mempercepat siklus ekonomi, mendorong semangat bangga produk lokal, hingga mendorong nation branding produk lokal unggulan. Selama masa promo, Borongdong.id menawarkan banyak keuntungan yang bisa pelanggannya manfaatkan. Keuntungan yang ditawarkan berupa gratis ongkir untuk periode 3 bulan, gratis biaya layanan/marketplace fee untuk 3 bulan pertama.
Memang benar adanya bahwa pandemi ini memang sangat mempengaruhi keberlangsungan UMKM di seluruh Indonesia. Maka dari itu, para pelaku UMKM perlu memutar otak agar tetap bisa bertahan di era disrupsi seperti ini. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan menggunakan sosial media dalam mendorong usaha, tetap membuka usaha dengan menerapkan protokol kesehatan, dan menambahkan modal seperti yang dilakukan kawan-kawan dari 5758 Coffee Lab. Namun sepertinya di era digital ini, meningkatkan strategi penjualan via online merupakan hal paling jitu yang dapat dilakukan sekarang. Mengutip kata-kata Pak Ridwan Kamil, orang-orang yang dekat dengan teknologi hidupnya akan dimudahkan, sementara yang tidak akan lebih sulit bertahan. Saya berharap semoga para pelaku UMKM masih bisa bertahan melawan masa-masa sulit ini, saya juga berharap dengan adanya pandemi ini kita-kita sebagai Warga Negara Indonesia bisa menjadi lebih kreatif lagi dan bisa menjadi lebih bersyukur dengan apa yang kita punya.
DAFTAR PUSTAKA
- Arie, Lukihardianti & Gita, Amanda. 2021. “Pandemi, Pendapatan di Jabar Turun Drastis” (https://www.republika.co.id/berita/qoviax423/pandemi-pendapatan-umkm-di-jabar-turun-drastis-part1). Diakses pada 3 November 2021.
- Intan Khairunisa & Lia Elita. 2020 “”Ekonomi Jabar Turun Akibat Pandemi, Pemerintah Berstrategi Lewat Ekonomi Kreatif”. (https://ketik.unpad.ac.id/posts/355/ekonomi-jabar-turun-akibat-pandemi-pemerintah-berstrategi-lewat-ekonomi-kreatif). Diakses pada 3 November 2021.
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 2020. “Inilah Lima Upaya Jabar Dorong UMKM Saat Pandemi Covid-19”. Diakses pada 3 November 2021.
- Wisnu W. Pamungkas. 2021. “Selamatkan UMKM Jabar, Borongdong.id Resmi Diluncurkan.” (https://bandung.bisnis.com/read/20210210/550/1354911/selamatkan-umkm-jabar-borongdongid-resmi-diluncurkan) diakses pada 3 November 2021.
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 2020. “UMKM Bakal Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi di Era AKB”. (https://jabarprov.go.id/index.php/news/38301/2020/07/01/UMKM-Bakal-Jadi-Andalan-Pertumbuhan-Ekonomi-di-Era-AKB). Diakses pada 8 November 2021.
- Wisnu W. Pamungkas. 2021. “Jumlah UMKM Jabar di Marketplace Naik 34 Persen di Masa Pandemi”. (https://bandung.bisnis.com/read/20210926/550/1446987/jumlah-umkm-jabar-di-marketplace-naik-34-persen-selama-pandemi). Diakses pada 8 November 2021.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
Proyek Mini #1: Nayla's Attempt to Cook
foto hasil proyek: Bistik Jawa dan Oreo Pancake Hohoy! Halo... nama saya Nayla dari kelas 8 Jamuran. Hari ini saya akan menceritakan tentang hasil akhir Proyek Mini #1 saya yang bertajuk Nayla's Attempt to Cook! Ya... judulnya sih "attempt" karena kayaknya setiap saya masak jarang bener tuh hasilny…
Mars (Don’t Pee Randomly), Film yang Sedikit Absurd namun Menarik
Identitas Film Judul: Mars (Don’t Pee Randomly) Tahun rilis: 2017. Rating usia: All ages. Genre: Sci-Fi & Comedy. Rumah produksi/distributor: Tiga Koma Lima Film. Sutradara: M. Marhawi. Pemeran: Kelvin Valerian (Ipul), Putri Emiliardillah (Sofia), Nani Yudi (Ibu), Sri Cahyadi Aprianto (Pak guru…
