Bertanya Semesta

Tulisan pertama kok sudah berat ya? Apalagi bicara soal semesta.
Hal ini diawali dengan sesi diskusi bersama Kawan Sajojo entah tentang apa, karena partnerku pun lupa. Si dua pelupa ini hehe. Dari diskusi tersebut teman-teman mulai memunculkan beragam pertanyaan tentang Semesta. Oiya, hal ini terpantik dari pertanyaan Mengapa hari Senin Sajojo tidak berkegiatan di sekolah? Salah satu teman menjawab, “Karena tanggal merah.” Kami pun membongkar alasan di balik tanggal merah tersebut yang ternyata ada karena Maulid Nabi.
Maulid Nabi itu apa ya? Salah satu teman mengatakan itu hari lahir Nabi. Yang lain bilang, ulangtahunnya nabi di agama Islam. Uniknya, jawaban itu muncul dari beberapa teman yang beragama Katolik dan Kristen. Hal ini memantik pertanyaan terkait siapa nabi itu sendiri, memantik banyak cerita nabi dari sudut pandang berbagai agama.
Pertanyaan yang muncul pun banyak,
“Kalau Tuhan bisa menciptakan banyak hal, lantas siapa yang menciptakan Tuhan Kak?”
“Terus Tuhan Yesus tuh berarti menciptakan dunia?”
“Siapa yang menciptakan setan?”
“Tuhan sebesar apa sih?”
“Surga itu sebesar apa sih? Kan nanti akan ada banyak orang di surga? Surga cukup ga sih?”
Ada hal yang menggelitik untuk aku pribadi. Mengapa teman-teman kecil dengan keyakinan katolik dan kristen menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap Tuhan dan nabi-nabi yang mereka tahu dari Alkitab. Tapi mengapa teman-teman muslim tidak menunjukkan bahwa mereka segitu penasarannya dengan agamanya. Ngomong-ngomong aku muslim, dan ini menjadi fenomena yang cukup menarik perhatian saya. Hal ini juga memunculkan banyak sekali pertanyaan untuk aku pribadi.
- Apakah fenomena ini ada karena memang kita seringkali dijauhkan dengan kebaikan di dalam agama itu sendiri dan terlalu berfokus pada ritual yang wajib kita lakukan?
- Mengapa rasanya anak-anak muslim jauh sekali dengan keajaiban agamanya?
- Mengapa mereka belum memunculkan pertanyaan tentang pencipta mereka, yang luar biasa ajaib dan hebatnya?
- Gimana caranya aku sebagai orangtua bisa membawakan kebaikan-kebaikan dari agamaku ini menjadi menarik untuk anakku?
Komentar (1)
Waah selamat kak Ian untuk esai pertamanya. Pecah telor ya . Tulisannya menarik banget juga reflektif banget kak. Makasih banyak.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES001 Benarkah... Kita Jadi Gak Sabaran dan Jahat karena Kapitalisme??
Kalau dipikir-pikir, ada masa di mana hidup kita sebagai manusia belum disetir total oleh logika kapitalisme. Dulu, masyarakat praindustri kalau bikin kerajinan, masak, bertani, atau bangun rumah dilakukan sebagai bagian dari keseharian aja. Pekerjaan belum sepenuhnya dipisahkan dari keseharian man…
Vhania22
AES001 Memulai
Aku sempat bingung, harus menulis apa di sini. Apakah semua tulisan harus terasa positif, atau boleh juga menuliskan hal-hal yang belum selesai di dalam diri? Karena tidak setiap waktu kita bisa berpikir dengan jernih, aku sempat berputar-putar cukup lama, mencari-cari apa yang akan aku tulis untuk…
Nawwa30
AES001 Persoalan Aku, Lumut dan Waktu
Suatu sore saat aku mengikuti kelas Bivitri Susanti seorang yang ku kagumi jika itu menyangkut hukum. Perempuan. Aktivis. Ahli Tata Negara. Keren sekali. Aku ditugaskan menuliskan policy brief tentang MBG, disana ada pertanyaan mengusik dari teman kelompokku, "Buat apa sih toh ga akan diterima". Ji…
