AES 515 Pertanyaan-Pertanyaan
Kita merasa telah mendampingi orang lain mendapatkan kejelasan jalan hidupnya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan hidup kita sendiri. Kalaupun pertanyaan-pertanyaan itu membuat orang lain mendapatkan pencerahan yang menerangi jalan yang tadinya terlingkupi bayangan jadi tampak, kita tetap tidak mendapatkan jawaban untuk hidup kita sendiri. Semakin tersesat kita bertanya-tanya tanpa mencari jawaban sendiri karena orang lain yang terus-terusan menjawab pertanyaan mereka sendiri, ya pertanyaan mereka sendiri bukan pertanyaan kita. Pertanyaan-pertanyaan kita hanya membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka, kehadiran kita yang mempertanyakan dan terus bertanya membuat mereka berani untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri dan menjawabnya dengan gagah berani. Mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan kita, membiarkannya tidak terjawab karena mereka memang tidak hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu. Kita lah yang hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kita sendiri, tetapi kita malah sibuk mengoper pertanyaan itu kepada orang lain. Kita merasa telah mendampingi orang lain mendapatkan kejelasan hidupnya dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan hidup kita sendiri ke tempat pengabaian, mengendap tak terjawab.
Jawablah terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan kita, karena dalam proses menjawab itulah kita benar-benar menemani perjalanan hidup orang lain. Pendampingan itu hanya kesan yang dirasakan oleh orang lain yang sedang bersama-sama dengan kita menjawab pertanyaan masing-masing. Kalau dia merasa kehadiran kita membuatnya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya, labelnya adalah merasa terdampingi. Begitu juga sebaliknya, bukankah kita juga jadinya terdampingi oleh mereka ketika kebersamaan itu membuat kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kita sendiri juga. Yang kita masing-masing butuhkan adalah pembebasan diri sendiri, bukan kebebasan yang diberikan oleh orang lain yang adalah bentuk penindasan yang dinikmati mentalitas budak kita. Bahkan pengekangan kita kepada orang lain dalam bentuk apapun ataupun sebaliknya orang lain kepada kita adalah pemberian kebebasan, dengan mengikuti instruksi dan patuh pada jalur yang ditetapkan itu kita jadi bebas dari konsekuensi tindakan otentik kita atau mereka. Karena, tindakannya tidak otentik. Tidak ada tindakan otentik, tidak ada konsekuensi dari tindakan otentik. Yeaah.. bebas!
Bentuk pengekangan apapun yang dimaksud tadi salah satunya adalah pertanyaan-pertanyaan pengarah itu. Kita merasa telah mendampingi orang lain dengan memberikan pengarahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan hidup kita sendiri, yang tidak mampu kita jawab sendiri. Karena kalau sanggup kita jawab, tidak akan ada pertanyaan pengarah melainkan jejak langkah kita yang dapat diikuti oleh orang lain. Pertanyaan pengarah hanyalah hambatan yang cenderung dihindari, bahkan jawaban yang benar pun untuk menghindari pertanyaan itu. Begitu terjawab, pertanyaannya jadi tidak ada lagi. Berhasil dihindari. Akibatnya adalah semakin sering kita bertanya atau mendampingi (yang lebih tepatnya merasa mendampingi) dengan pertanyaan-pertanyaan, semakin tenggelam dan tertahan hidup kita dalam pertanyaan-pertanyaan yang akan selalu kita ulang-ulang selamanya sepanjang segala jaman. Kemudian kita bangga karena orang lain mencapai tingkat perkembangan tertentu, tingkat perkembangan yang sesungguhnya belum kita capai dan sudah melampaui tingkatan kita. Di sini jadi hanya ada satu keadaan, yaitu kita menjadi penghambat bagi mereka. Karena yang kita tuntut adalah pemenuhan diri mereka, sedangkan yang mereka lihat adalah kebuntuan perkembangan dan kekosongan diri kita. Lama-lama mereka sadar kalau mereka pelarian diri kita. Perlawanan, dalam bentuk apapun yang biasanya keengganan yang bikin sakit perut berat langkah buyar pandangan, rasanya jadi wajar.

Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 514 Apa Yang Perlu Saya Lakukan?
Adalah pertanyaan yang lagi sering saya dengarkan berseliweran di udara, ini dapat jadi salah satu indikator ketakutan . Takut salah, misalnya. Bahkan dengan kemampuan sebesar apapun dan keterampilan semahir apapun, akan batal oleh ketakutan berbuat salah ini. Mirisnya, salah yang terjadi pun bisa…

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

