AES083 Kecewa

Sudah satu minggu aku di rumah. Kalau dihitung-hitung dalam seminggu ini aku baru dua kali keluar rumah. Satu kali menjemput Sei pulang sekolah dan satu kali menjemput Sei les taekwondo selebihnya tujuh kali dua puluh empat jam aku berada di rumah menemani si kecil yang sedang sakit. Jarang sekali aku berada di rumah seperti ini. Kami berdua sudah seperti hamster, berkeliling sebentar makan lalu tidur begitulah. Empat hari pertama kami berdua seharian di dalam kamar tiga hari berikutnya kami sudah mulai keluar kamar karena si adik juga sudah mulai membaik dan mulai bosan. Dia mulai mencari mainannya, dari hari mobil ke hari kereta sampai hari ini hari roket. Aku juga mulai bosan. Saatnya aku melarikan diri ke dapur.
Tiga hari lalu aku mendapat kiriman cabai dari tanteku di kampung sana, cabai dari kampung kami pedasnya mantap dan tidak langu cocok diolah menjadi aneka sambal dan makanan pedas lain, entah mengapa seperti punya sihir cabai dari kampungku walaupun pedas tidak membuat sakit perut. Membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat dan lapar. Keinginan untuk memasak sudah kupendam sejak kedatangan satu dus cabai ini namun adik kecil yang masih rewel dan menempel kemana-mana membuatku luluh, mengurungkan niat untuk memasak. Aku bersabar sampai dia mulai sehat dan sudah bisa ditinggal main sendiri. Ya hari ini hari yang tepat untuk mengeksekusi!
Rencananya aku mau memasak dendeng balado kumulai dengan membuka kulkas dengan bersemangat mengambil cabai keriting yang warnanya membuat silau, warnanya merah sempurna! sedikit cabai rawit jingga yang panjangnya hampir sama dengan ukuran cabai keriting dan bawang merah yang sebenarnya warna ungu siapa pula yang memberi nama bawang ini bawang merah padahal warnanya ungu.
Selesai kuletakkan pada baskom kuberalih membuka pintu sebelahnya, kucari dia si bahan utama. Daging has dalam indahku. Kemana dagingku. Daging primadona yang masih terbungkus plastic wrap berukuran 1/2kg itu lenyap. Kucari dengan seksama, dia tetap tidak ada. Penasaran aku tanya pada mbak kemana hilangnya dagingku. Seminggu ini aku belum memasak tidak mungkin daging itu hilang. Ternyata kapan hari mamaku memasak itu untuk suguhan tamu di kantor. Kecewa berat. Rasanya seperti belajar semalam suntuk untuk ujian pagi ternyata dosennya tidak hadir dan ujian diundur mendadak.
Rasanya hilang sudah ambisiku untuk makan enak. Pupus sudah harapan yang sudah kusimpan selama ini. Akhirnya kami makan makanan darurat yang selalu tersedia di kulkas. Ayam ungkep dan sambal matang. Sampai untuk menuliskan di sini aku masih merasa sedih.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
