AES121 Adik dan Nyamuk

Tidak terasa adik kecil yang lucu itu pada pertengahan tahun akan menginjak usia empat tahun. Melihatnya yang aktif berlarian kesana kemari membuatku lupa bahwa dia orang paling muda di rumah ini sudah bukan bayi lagi. Meskipun masih suka menempel seperti perangko (apakah sekarang masih umum istilah ini karena perangko sendiri sudah jarang digunakan) dia mulai memperlihatkan perkembangannya. Momen kecil sederhana yang membuatku kagum. Wah adik sudah besar
Adik senang memperhatikan binatang di sekitarnya. Dulu dia suka menginjak semut, memburu semut yang tidak berdosa. Sekarang dia bilang ke semut kecil, “Cari mama ya? Bu kasian adek semut cari mamanya!”. Binatang-binatang kecil menurutnya sedang mencari mamanya semua, apalagi yang sendirian seperti laba-laba atau cicak.
Ada satu cerita menarik, aku sering memburu nyamuk, akhir-akhir ini di rumah banyak sekali sampai aku selalu membawa raket nyamuk ketika bermain dengan adik karena yah darahnya manis sering sekali menjadi sasaran para nyamuk. Adik yang sedang fokus bermain tiba-tiba memanggilku mungkin terganggu mendengar bunyi tar ter tor raket nyamuk. “Bu kasian nyamuk nanti mamanya cariin, adek nyamuk mati.” Hah?
Aku tertegun mendengar komentar adik, sudah sering bentol gatal dimana-mana karena si nyamuk dia malah membela bahkan semprotan nyamuk pun dia buang ke tempat sampah! Aku dilarang membunuh nyamuk karena mamanya akan bersedih anaknya mati.
Luar biasa, empatinya sudah mulai tumbuh. Anak kecil memang polos, hati mereka begitu bersih. Anak-anak lahir dengan rasa cinta utuh kitalah orang dewasa yang tidak sadar menggerus itu dan menggantinya dengan suatu kebencian. Perlahan mereka menyalin cara kita memandang dunia. Anak-anak lahir saling menyayang sesama makhluk hidup. Kitalah yang merusak, memberi label, mencontohkan ketidaksukaan.
Terima kasih adik yang sudah lembut mengingatkan aku bahwa semua makhluk hidup pantas dicintai. Dalam kaca mata cinta kasih semua sama berharga.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
