AtomicEssay

AES122 - Privilese Untuk Melambat

Ara Djatipenulis arsip2

Ketika kami ke tempat Mbak Siska, dia bercerita banyak sekali soal proses di balik Pasar Papringan dan soal kehidupan di kampung. Katanya, yang namanya "slow living" itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berprivilese. Kenyataannya, di desa, orang-orang sibuk. Mereka bangun subuh dan tidur malam, mengurus keluarga, merawat kebun, menyisihkan waktu untuk hidup sosial, dengan uang yang datang stabil hanya saat masa panen.

Aku berpikir-pikir beberapa hari ini tentang apa artinya slow living bagiku. Apakah memang aku hanya bisa mengenakan gelar itu karena aku berprivilese? Karena aku tidak butuh disibukkan dengan berbagai hal dan urusan? Karena aku tidak tahu rasanya bekerja dan berusaha?

Selama aku di Ngadiprono, aku rasa waktu sungguhan melambat. Jam dua puluh aku sudah mengantuk, siap-siap tidur. Pagi-pagi rasanya sudah melakukan segala hal, saat melirik jam baru pukul sembilan. Padahal, rasa-rasanya di rumah aku selalu terburu-buru. Aku mengakhiri hari jam sepuluh, dan terasanya seperti masih ada begitu banyak yang perlu dikerjakan esok hari. Padahal, di sini pun ada banyak yang perlu dikerjakan. Harus masak, menyapu, cuci baju, mandi, jalan-jalan, berkunjung ke tetangga, riset, menulis. Aku juga menyicil berbagai pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di Bandung. Tapi banyak sekali waktuku yang luang.

Aku tidak sepenuhnya setuju dengan tangkapanku atas perkataan Mbak Siska. Slow living bagiku adalah kemampuan untuk hidup di masa kini, tanpa dipenuhi distraksi dan berbagai hal berseliweran di dalam dan luar. Bangun subuh, berkebun, masak, jaga malam, tidur: kalau dilakukan dengan penuh sadar, rasanya beda, tidak se-hectic jika aku melakukan yang sama di Bandung dengan berbagai distraksinya. Jaringan yang jelek dan lampu yang kurang terang memaksaku untuk mencari hal lain untuk dikerjakan. Bagiku, melambat adalah tentang melambatkan pikiran, bukan sebatas pergerakan.

Siput di jalanan tengah sawah ke arah bukit pemakaman dusun sebelah

Komentar (3)

Andy Sutioso

Terima kasih Ara. Ini pengalaman yang sama waktu saya dan RIco berkunjung ke Papringan. Catatannya ada di sini https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/3056/aes054-mari-segera-memperlambat Terima kasih banyak tangkapan dan pemikirannya. Keren... Sekalian titip salam untuk siputnya ya...

Ara Djati

Terima kasih kak, akan kubaca, dan akan disampaikan salamnya!

mmatheusaribowo

Nikmat banget memang melambat di lereng sindoro. Kalau lihat Pak Singgih juga kesehariannya lambat dan nikmat banget.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES123 - Menghidupkan Pranoto Mongso

Waktu aku membuat proyekku di semester lalu tentang kalender dan persepsi waktu, aku sedikit-sedikit mendengar tentang Pranoto Mongso, sistem perhitungan kalender tani di Jawa. Bagan yang kutemukan di internet berbentuk layangan jungkir balik dengan bulatan di tengah. Waktu itu, aku tidak mempelaja…

Ara Djati33
AtomicEssay

AES125 - Revitalisasi yang Sesungguhnya

Mas Yudhi datang menjemput kami naik mobil, jam dua kurang sore kemarin. Sepanjang perjalanan, dia bercerita tentang Spedagi dan ogoh-ogoh yang ada di samping jalan dan tentang Pak Singgih. Dia bercerita tentang bagaimana Pak Singgih terus-menerus mencoba membuat prototipe sepeda bambu, meski gagal…

Ara Djati62
AtomicEssay

AES124 - Mengenai Sampah

Sudah dua minggu penjelajahan, mengurus rumah dan membagi tugas antara kami berenam saja. Mulai terlihat betapa segala hal yang kami lakukan ada dampaknya. Harus rajin mencuci baju, kalau tidak akan repot mencari tempat di jemuran. Senang sekali rasanya lihat banyak jemuran kering. Harus segera man…

Ara Djati51