AES142 Manfaat Berpuasa

Lagi, masih tentang berpuasa. Tak terasa bulan penuh berkah ini sudah hampir sampai akhir. Hari-hari yang telah berlalu menjadi renungan penting, menelaah kembali apa saja yang telah terlewati terlewat begitu saja atau menjadi suatu makna.
Berpuasa rupanya menjadi sebuah kewajiban yang menurutku bentuk dari mencintai diri sendiri. Kewajiban bukanlah suatu keterpaksaan namun keharusan. Keharusan kita untuk mendengar permintaan tubuh untuk beristirahat, yang biasanya kita hiraukan dalam sebelas bulan terakhir.
Mari melihat kebelakang, ukurlah berapa jauh kita mengeksploitasi tubuh kita. Mulai dari kebiasaan makan, tidur, tenaga hingga pikiran. Jadwal dan menu makan berantakan, tidur larut malam kemudian bangun dini hari, berbaring dalam keadaan kelelahan serta pikiran yang dipaksa terus memutar sampai akhirnya tidur dengan sendirinya. Selama sebelas bulan itu, tubuh kita selalu mengirim sinyal untuk meminta time out yang nyatanya kurang diindahkan, selalu ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Sampai datanglah bulan Ramadan.
Kewajiban ini memaksa kita untuk mendengarkan tubuh. Berpuasa. Derita melaparkan diri sebenarnya adalah bahagia memperbaiki diri. Secara ilmiah hal tersebut menjadi ajang perbaikan sel tubuh. Iman kita memberikan waktu 30 hari untuk tubuh memperbaiki diri.
Dimulai dari terbatasnya asupan makanan menjadikan kurangnya kadar gula dalam darah, pada jangka pendek tubuh akan memaksa membuat gula dari gudang cadangan, yaitu lemak. Bonusnya lemak membandel akan berkurang jumlahnya karena dipakai menjadi energi pengganti gula, kolesterol otomatis ikut berkurang juga. Dalam jangka panjang insulin yang bekerja santai dapat beristirahat sehingga meringankan kerja pankreas.
Selanjutnya dalam keadaan ‘kekurangan gula’ yang panjang sel tubuh akan mematikan sel-sel yang rusak. Ibarat musim kemarau sebatang pohon akan menggugurkan daunnya yang sudah tidak produktif, tubuh pun sama. Menariknya sebagai kompensasi kehilangan, tubuh juga membuat banyak sel baru. Regenerasi sel ini tentu membawa dampak baik pada semua organ tubuh.
Serunya bukan hanya sel tubuh saja yang bahagia, mikrobiota usus juga merasakan hal yang sama. Dengan berkurangnya asupan makanan, tentu bakteri patogen yang terbawa oleh makanan juga berkurang sehingga pertumbuhan mikrobiota usus menjadi optimal. Hal tersebut tentu berpengaruh pada produksi hormon mengingat pencernaan merupakan otak kedua. Artinya produksi hormon stres menurun dan hormon serotonin meningkat menyebabkan suasana hati membaik serta menurunkan stres dan kecemasan. Luar biasa bukan.
Kewajiban berpuasa selama sebulan penuh sungguh suatu anugerah yang ‘memaksa’ kita untuk menyayangi diri. Tentu dengan membawa kesadaran untuk senantiasa bersyukur dan merasa cukup membuat kita menjadi diri yang lebih baik. Seperti sel yang terus beregenerasi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…
