AES405 Fasilitator Hanya

Kalau bilang hanya memfasilitasi, berarti hanya fasilitator. Kalau bilang hanya menemani, berarti hanya teman. Kalau bilang hanya itu, berarti hanya segitu. Kalau bilang hanya ini, berarti hanya segini. Yang ada ya ada, yang gak ada ya gak ada. Makanya jadi wajar dan perlu diterima kalau yang adanya segini, jadinya di sini. Kalau yang adanya segitu, jadinya di situ. Mau menuntut jadinya apa lagi, kalau adanya lagi apa.
Sedemikian cara kita melakukan satu hal, sehingga demikianlah cara kita melakukan semua hal. Makanya, hanya itu bukan hanya hanya melainkan adalah segalanya. Tidak sadar diri lah kalau hanya memfasilitasi lalu meminta kepatuhan, karena bukan instruktur. Tidak sadar tujuan lah kalau hanya menemani lalu meminta dituruti, karena bukan direktur. Tidak sadar lingkungan lah kalau hanya mengikuti lalu meminta disegani, karena bukan disruptor.
eits, beda lho ya antara disruptor dengan destruktor; seperti perbedaan antara alfa dengan dominan lah,
beda lagi dengan distraktor; berisik yang ini.
Hanya adalah segalanya, meskipun segalanya bukan hanya itu. Semacam kata yang tidak menceritakan semuanya, begitupun semuanya hanya bisa diceritakan melalui kata. Jadi teringat kutipan yang bilang kualitas dari pesan yang dikatakan ada pada yang tidak terkatakan. Sehingga bisa jadi, maksud dari bilang "hanya segitu aja" adalah bilang "segitu sudah semuanya."
Jadi kalau fasilitator bilang hanya ngasih tau, artinya semua yang dimampu adalah ngasih tau. Gak mampu ngasih contoh. Lalu kalau bilang hanya kasih contoh, artinya semua yang dimampu adalah kasih contoh. Gak mampu kasih pilihan. Sedangkan kalau bilang hanya kasih pilihan, artinya semua yang dimampu adalah kasih pilihan. Gak mampu kasih putusan.
Yang paling fatal sekaligus gatal itu yang suka bilang hanya fasilitator. Kesannya jadi kontradiktif, bukan lagi paradoks. Ironis malahan. Karena tampak ingin membeSarkan diri melalui predikat fasilitator malahan mengerdilkan diri melalui batasan hanya. Justru yang kental tertangkap, motif membeNarkan diri.
Frasa hanya fasilitator pun mengandung arti bahwa semua yang dimampu adalah "memfasilitasi hanya." Gak mampu "memfasilitasi sampai." Biar lebih terasa mari coba bedakan, "Saya memfasilitasi hanya yang ini, kalau yang itu kamu usahakan sendiri.” Dengan, "Saya bisa memfasilitasi sampai di sini, selanjutnya kamu usahakan sampai ke sana berbekal hal ini dulu."
Yah, begitulah kira-kira materi penyiapannya.
Ini pun hanya ngomong koq (eh, hanya nulis).
Intip tulisan ini sekalian gitu ya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
