AES437 Inspirasi Dari Pasar Seken, uhUy!

Pada momen barang yang terjual habis sebelum hari pelaksanaan pasar seken. Kalau dari sisi pembeli sih ini wajar, insting dasar manusia untuk bertahan hidup kan soal mengumpulkan sebanyaknya seduluan mungkin. Kalau dari sisi penjual, ini yang perlu lihat cabang motifnya.
Kalau motifnya memang transaksi, wajar saja oportunistik melanggar aturan main lewat celah jual duluan. Walaupun tetap saja tidak betul, karena tidak perlu menunggu acara pasar seken kalau mau bertindak seperti itu. Langsung saja jualan reguler yak. Hmmm... disorientasi motivasi kah ini?!
Kalau motifnya meramaikan, bisa jadi pelanggaran aturan main ini bagian dari gimmick(trik) promosi. Yang jelas akan berbalik kepada pengungkapan ketidak mampuannya berpikir jauh; Kalau promosi menipu(trik) pelaksanaan, bisa jadi pasar seken selanjutnya gak ramai karena sejumlah pembeli kecewa barang sudah habis duluan.
Dari motif "meramaikan" dicabangkan kepada orientasinya, kelihatanlah beberapa alternatif. Dua diantaranya adalah, menghadirkan keresahan atau mengadakan keberlanjutan. Terlepas dari disadari atau tidak!^
Kalau motifnya meramaikan dengan orientasi menghadirkan keresahan, ya sudah betul.
Karena pembeli benar merasa resah sekaligus hilang kepercayaan akan menemukan inspirasi atau barang yang dicari saat pelaksanaan pasar seken. Kapok deh, next gak kan datang.*
Sedangkan kalau orientasinya mengadakan keberlanjutan, jadi tidak betul.
Karena pembeli benar merasa resah sekaligus hilang kepercayaan akan menemukan inspirasi atau barang yang dicari saat pelaksanaan pasar seken. Kapok deh, next gak kan datang.*
Inilah pentingnya aturan main, bukan untuk dilaksanakan dengan main-main. Apalagi diucapkan dengan main-main, "Karena emang begini aturan mainnya." Yang mengungkapkan kedangkalan pemahaman dan misorientasi keterlibatan si pengucapnya.
Kalau pakai pandangan lebih baik betul daripada benar maka, orientasi perlu selaras dengan aturan main. Terlepas dari disadari atau tidak!^
Soalnya kalau orientasinya adalah keberlangsungan, sedangkan dengan bangga melanggar aturan lewat celetukan, "Barang yang saya jual saja sudah habis sebelum hari pelaksanaan, keren kan!" Sambil bermimik arogan; Terjadilah dikotomi.
Yang memahami, mengalami resah karena merasa dikhianati; Jadinya apatis.
Vs
Yang oportunistik, mengalami gelisah karena merasa diistimewakan; Jadinya agresif.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES513 Saksang Kapau, Kairos!
Lumayan tergelitik di kemarin pagi, ketika sedang obrolan membahas jagat raya semesta smipa. Ada satu kelompok jenjang remaja yang berencana memberi nama kelompok kudapan tradisionalnya, saksang. Woaa... saksang yang saya tahu sih bukan kudapan, karena berdasar pengalaman pribadi; Sepiring saksang…

AES512 Terlalu Giat Sampai Galat
Terlalu giat mempelajari sampai galat belajar. Pernah kan dalam obrolan, ketika kita sedang berbicara dan mengambil sedikit jeda untuk menarik napas demi melanjutkan kalimat. Eh, ada yang menyela masuk memberikan pandangan sepanjang satu paragraf tanpa jeda napas. Isinya mengoreksi hal-hal yang seb…

AES511 Ākāra
Menemukan kata dari bahasa sanskerta ini, bikin segar pandangan perihal "akar." Bukan hanya soal asal, tidak melulu soal dasar, lebih luas lagi ini mencakup soal ruang, naungan, bahkan sampai menyentuh bentuk dan tata laksana. Akāra, ākāra, ākara, akara. Soal bentuk, jadi teringat kalimat lama yang…
