AES51 Haruskah Melambat?

Slow living menjadi salah satu topik paling banyak dibahas di lingkaran pertemanan dunia nyata dan maya saya beberapa tahun ini. Berbagai buku dan media juga serentak membincangkan perihal gaya hidup atau cara hidup slow living. Dalam 3 bulan ke belakang, 2x saya berkunjung ke Baduy Dalam bersama beberapa teman yang beragam sekali latar belakangnya. Dari usia, disiplin ilmu yang didalami, profesi, minat atau hobi, asal daerah atau suku, bahkan pola asuh, dan bermacam identitas lainnya. Banyak dari mereka menyatakan bahwa bahwa warga Baduy Dalam itu "slow living banget".
Bisa saja kita langsung setuju dengan pernyataan atau pandangan ini. Apalagi untuk yang pernah berkunjung dan melihat aktivitas warga Baduy Dalam. Tetapi apakah mereka menganut cara hidup slow living atau hidup lambat? Dari hasil pencarian di google dengan kata kunci "slow living adalah", dapat ditemukan beberapa kata kunci. Menyelesaikan tugas dengan santai, mementingkan kualitas di atas kuantitas, mematikan mode autopilot, lebih santai dan tidak tergesa-gesa, sederhana tapi bermakna, dan banyak lagi hal serupa. Dari pengertiannya saja sudah beragam, berarti menjalaninya juga pasti berbeda-beda caranya. Bagaimana dengan kita, anda, atau saya? Sudahkah kita melakukan cara hidup slow living? Atau perlukah kita hidup dengan cara slow living?
Pada kedatangan kedua saya ke Baduy Dalam, seorang teman bertanya kepada tuan rumah kami, warga Baduy Dalam di kampung Ci Beo. "Kan di Baduy Dalam tidak ada jam, gimana kalian bisa melihat waktu?" Dengan tenang dan tersenyum sang tuan rumah menjawab, "Kami memang tidak punya jam, tidak memakai jam, karena kami memang tidak memiliki waktu. Kami melakukan kegiatan sehari-hari secara natural saja, saat pagi ke kebun, sore pulang, malam gelap kami tidur. Kami tidak didesak dan dikejar waktu." Kemudian diskusi berlanjut dan penanya mengatakan bahwa di sini (Baduy Dalam), tidak seperti di kota atau daerah lain yang orang-orangnya hidup dikejar-kejar dan didesak waktu karena merasa seolah memiliki waktu. Diskusi ditutup dengan dingin dan gelap malam yang tak diganggu cahaya lampu dan teknologi lainnya. Kemudian suara serangga malam dan gemericik sungai mengiringi kami semua terlelap dalam gelap sempurna malam di Baduy Dalam. Sementara di luar rumah, langit terang oleh percikan cahaya bintang-gemintang dan planet-planet yang memancarkan cahayanya tanpa terhalang polusi udara dan cahaya layaknya di kota.
Komentar (2)
Mantap. Ini nyambung dengan tuilsan kak Ine yang ini https://ririungan.semipalar.sch.id/innocentiaine/blog/1253/aes74-desa-kincir-air
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/3056/aes054-mari-segera-memperlambat Baru ingat pernah menulis ini juga.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES123 - Menghidupkan Pranoto Mongso
Waktu aku membuat proyekku di semester lalu tentang kalender dan persepsi waktu, aku sedikit-sedikit mendengar tentang Pranoto Mongso, sistem perhitungan kalender tani di Jawa. Bagan yang kutemukan di internet berbentuk layangan jungkir balik dengan bulatan di tengah. Waktu itu, aku tidak mempelaja…

AES99 Kuberi judul: J E D A
Pada hari-hari yang berjalan bergitu cepat, pernahkah kita berpikir bahwa Tuhan tetap menyediakan jeda-jeda sederhana, yang bahkan sering tak kita sadari. Ketika di jalan, tetiba ketemu lampu merah atau perlintasan kereta pas lagi buru-buru. Pernahkah kita menggunakan momen itu sebagai jeda, sesede…

AES 58 Musik Bambu dari Cireundeu
Oleh karena kakak tidak bisa memfasilitasi teman-teman dalam segala hal, maka terbukalah ruang-ruang kolaborasi dan saling berbagi. Salah satunya tentang musik bambu. Seingatku, musik bambu paling kukuasai ialah kentongan. Tinggal dan tumbuh di kampung dengan budaya ronda yang masih kuat, membuatku…

