AES567 Oblivious

Ini salah satu tulisan yang sudah lama sekali tertunda. Baru teringat bahwa tulisan ini terabaikan saat migrasi ke SIMPUL... Tulisan yang kemudian saya pindahkan ke draft - karena sebelumnya di Ririungan 2.0 fitur draft ini memang tidak tersedia. Jadi mudah sekali terlewat kalau ada tulisan yang belum dituntaskan.
Hari ini saya memutuskan untuk melanjutkan tulisan ini. Entah kenapa judul ini terasa relevan sekian lama setelah saya terpikirkan untuk menulis tentang hal ini.

Dictionary.com menjabarkan bahwa oblivious adalah salah satu bentuk ketidak-sadaran. Sadar Lingkungan tepatnya. Inilah yang saat ini sedang terjadi di banyak manusia hari ini. Ada hal besar terjadi di sekitar kita tapi kita tidak menyadarinya. Gak ngeh ... Jadi ya kita lempeng aja ... Padahal sikap dan tindakan kita bergantung pada situasi dan kondisi di mana kita berada.
Bagaimanapun saya kira kesadaran lingkungan berdasarkan pada bagaimana kesadaran diri kita. Segala sesuatu pada dasarnya serba terkoneksi dan menyadari koneksi (keterhubungan) itu adalah sesuatu yang fundamental agar sikap dan tindakan kita juga nyambung dengan situasi yang ada. Dalam bahasa yang lebih spiritual, ini adalah bagaimana manusia sebagai mikro kosmos selaras dengan apa segala sesuatu yang sedang bergulir di dalam semesta raya.
Di dalam salah satu tulisan saya, saya sempat menuliskan bahwa manusia yang kesadarannya tinggi, tidak banyak mengalami atau menimbulkan kecelakaan. Kecelakaan dalam pengertian luas, misalnya tidak menyinggung perasaan orang lain, tidak banyak kesandung atau nabrak kiri kanan. Kata-katanya halus, gestur dan sikapnya juga ramah dan tidak banyak menyinggung perasaan orang lain. Ini adalah gambaran manusia yang berkesadaran. Mungkin juga bisa diistilahkan mindful. Dia sadar betul apa yang ada di sekitarnya, dan juga menyadari segala ucapan, sikap dan tindakannya...
Dunia modern adalah dunia yang penuh distraksi. Karenanya manusia mudah sekali teralihkan dari hal-hal yang semestinya masuk dalam lingkup atensinya. Problem sosial, masalah lingkungan, berbagai konflik yang terjadi adalah karena ketidak-sadaran ini. Dengan peradaban yang semakin kompleks dan terasa penuh ancaman, manusia juga semakin terfokus terhadap dirinya sendiri - karena survival, bertahan hidup jadi prioritas tertinggi...
Ini jadi tantangan terbesar bagi manusia modern. Manusia yang hidup dalam sejuta kemudahan dan fasilitas, tapi gagal menemukan bahagia dan makna dari berbagai proses kehidupannya. Inilah ironi kehidupan manusia modern. Kuncinya kembali ke kesadaran. Kalau hal ini disadari, ketidak-sadaran bisa diatasi, manusia bisa menemukan makna dan hal-hal kecil di luar dirinya yang menjadikannya terkoneksi terhadap kehidupannya... Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam.
Photo by cottonbro studio: https://www.pexels.com/photo/blindfolded-woman-dancing-on-top-of-a-rock-10556667/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES963 Oh...
DIksi singkat ini, 'Oh', sedang saya upayakan menjadi diksi yang banyak saya gunakan. Kenapa? Karena diksi ini membantu saya menempatkan segala sesuatu yang terjadi sebagai netral, Kenapa perlu netral? Sejauh ini saya meyakini bahwa menempatkan segala sesuatu secara netral adalah cara ampuh untuk m…

AES#024 Perlukah Melenyapkan Ego?
Kadang bagi pejalan spiritual ego dianggap sebagai musuh kesadaran yang harus dilenyapkan. Banyak dari kita yang meniti jalan kesadaran merasa bersalah dan berseteru dengan ego. Namun sebenarnya yang ingin melenyapkan ego... adalah ego itu sendiri. Akhirnya terjadi looping: semakin kita berupaya me…
Murdeani11
AES942 Holistic Science
Pertama kali mendengar kata holistik (holistic) disandingkan dengan kata lain di belakangnya, seingat saya di sekitar tahun 2005-an. Saat awal kami merintis Rumah Belajar Semi Palar - waktu itu masih mengontrak satu rumah di Jalan Terusan Karang TIneung, karena lokasi saat itu Semi Palar masih beru…

